Sunday, 28 January 2018

Masih Tentang Kita | 001










Kalau rindu
Katakan
Hati dia tak memiliki alat penyadap di hatimu



-Renita Tyas-

Friday, 26 January 2018

A Surprise on Gloomy Friday | 26th Jan 2018

Siapa di antara kalian yang pernah atau senang bermimpi? Mungkin kalau bahasanya mimpi, semua orang pasti pernah bermimpi. Aku akan menyederhanakan pertanyaanku. 
Siapa di antara kalian yang pernah atau senang mengoleksi impian kalian di kepala? Impian menurutku adalah sesuatu yang kita sangat inginkan untuk menjadi kenyataan. Kemanapun kamu berjalan, impian itu akan selalu kamu bawa sebagai roadmap untukmu berjalan menuju ke arahnya. 

Mamaku selalu bilang, dibanding adikku, buatnya aku cukup aktif dalam berimajinasi sedangkan adikku aktif in terms of kelakuan. Hal ini ditandai dengan aku yang tenang, cenderung pendiam, senang menghabiskan waktu di kamar, menggambar, menulis, belajar. Tapi jujur saja, ketika beranjak dewasa, dengan segala macam lika-liku kehidupan yang mulai terjadi dan sangat kompleks, mungkin aku seperti terkejut. Aku yang biasa fokus tiba-tiba berubah untuk harus bisa menjadi serba bisa dan bekerja dalam tekanan. Aku bukan orang yang mudah menyerah, maka dari itu, setiap menghadapi sesuatu yang baru, aku tidak lantas takut yang berlebihan, namun justru mencoba untuk menghadapi. Hal ini  baik di satu sisi, tapi setelah aku sadari ini bisa menjadi kelemahanku jika aku tidak bisa mengontrolnya dengan tepat. Aku yang tak pantang menyerah untuk menghadapi apapun yang ada di hadapanku, literally apapun, tanpa aku bisa menolaknya, membuatku kehilangan fokus dan alhasil satu persatu impianku yang selama ini aku rajut dalam kepala, tak pernah kunjung selesai terealisasikan dalam jangka waktu yang panjang. Bahasa sederhananya, nggak pernah tuntas. 

Suatu hari aku nge-down. Aku shut down diriku dari segala hal yang membuatku seperti kehilangan arah, out of control. Akhirnya aku sadar di mana kesalahanku selama ini. Dengan perubahan lingkungan yang cukup extreme ketika aku keluar dari zona nyamanku kala dulu aku duduk di bangku sekolah dan melihat dunia jauh lebih luas lagi, membuatku pernah suatu hari iri dengan mereka yang mudah bergaul, mudah mendapatkan perhatian dari orang di sekitarnya. Then I tried to be somebody at that time, instead of BEING MYSELF. Tapi aku nggak pernah sadar. Nggak pernah sadar bahwa aku meninggalkan diriku yang suka menulis, yang suka mengejar impian dengan cara yang benar, meninggalkan diriku yang seharusnya aku syukuri dan aku apresiasi, namun sekali lagi, terangnya dunia terkadang mengecohkan jalan kita. Ternyata tak seluruh permukaan dunia adalah terang, ada kegelapan di dalamnya. 

Aku nggak ingin tersesat lagi. Mungkin kehidupan ini seperti labirin. Sepunya-punyanya impian, kita tetap tak pernah tahu apa yang akan kita temui di setiap persimpangan di depan sana. Kita juga nggak pernah tahu mungkin suatu waktu Sang Pencipta kehidupan ini bisa saja memutuskan untuk menarik kita secara tiba-tiba keluar dari labirin kehidupan ini. Lalu dengan mindset seperti ini, aku yang tadinya mungkin 90% waktuku bernapas dihabiskan untuk memikirkan dunia, aku ingin menjadi apa, aku ingin melakukan projek apa lagi, aku ingin kemana, dan lain sebagainya. Lama-lama aku lelah dengan keinginan yang tak mendasar atau sifatnya sangat duniawi ini. Melakukannya hanya for the sake of myself. Kurang lebih setahun aku mulai perjalanan spiritualku. Bukan apa-apa, itu hanya sebuah perjalanan untuk mengenal apa yang pantas aku yakini. Jadi singkatnya sekarang aku sudah kembali menata hidupku. Aku yang merindukan diriku yang dahulu bersama hobi-hobiku yang menggemaskan (begitu aku menyebutnya kala aku melihat foto masa kecilku), kini aku sudah menemukannya kembali. 

Dan tepat hari ini, aku yang sedang dalam proses menunggu review naskah perdanaku yang ingin sekali aku terbitkan dan suatu hari memiliki pembaca setianya, yaitu naskah "Pasirku Dari Maluku". Selain menulis cerita, aku juga suka musik, maka impian lainku, aku ingin bisa memvisualisasikan naskah ini dalam bentuk lagu-lagu. Lalu aku tulis beberapa lirik. Jujur saja aku bukanlah seseorang dengan suara emas yang memukau, aku hanya bisa mengakui bahwa aku suka menyanyi. Dan jujur lagi, aku tidak bisa bermain musik, tapi aku bisa membuat suatu melodi untuk sebuah lirik. Jadi 2 hari yang lalu, aku mengirimkan email (butuh keberanian, karena aku cukup takut akan penolakkan), ke seseorang yang hanya aku kenal lewat sebuah buku dan Youtube. Dia adalah Paulus Andreas Partohap, akrab disapa Kak Paul, seorang musisi yang humble. Yep buat kalian yang tahu Gita Savitri Devi, seorang content creator yang sangat terkenal di dunia per-Youtube-an, pasti kalian juga tahu Kak Paul. Untuk kirim email ke Kak Paul, aku mikirnya berkali-kali. "Pantes nggak ya gue kirim email ke dia buat ngajak kolaborasi? Yaelah, gue siapa sih berani-berani ngajak kolaborasi seorang Youtuber yang subscribe-nya udah puluh ribuan? Gue yang notabennya cuma punya modal keberanian, kesukaan, dan cinta akan seni." Tapi akhirnya setelah bergumul dengan keraguanku dan berkali-kali aku bicara sama Tuhan dalam sholat-ku bahwa I do really want to do a right thing, at least once now. Karena aku yakin, another right things will follow after a right thing succeed to happen. (bisa jadi quotes nih kayaknya :'D written by Renita Tyas yak!) dan, gue sent email itu. 

Nggak disangka, hari ini pagi-pagi gue bangun ngecheck hp, dan gue coba buka email, dann...... 

Cukup sekian untuk postingan blog ini :) Aku pasti akan update lagi kelanjutannya. Yang jelas, seandainya Kak Paul baca blog gue suatu hari nanti, gue cuma mau bilang this is my first experience talking directly even cuma by email sama seseorang yang gue cukup admire, mulai dari ceritanya melalui cerita Kak Gita di buku Rentang Kisah sampai gaya musik dia yang gue banget. Gue nggak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi yang jelas, kalau ini adalah sesuatu yang baik yang bisa gue lakukan, lillahi ta'ala, gue akan terus melakukannya sampai ini benar-benar menjadi sesuatu yang bisa menginspirasi banyak orang. Thank you kak Paul for this great chance. Bismillah yaa... 

P.s: buat kalian yang penasaran sama cerita Pasirku Dari Maluku, hingga bukunya terbit nanti, kalian bisa akses cerita draft-nya di Wattpad. Kalian cuma perlu sign up (bagi yang belum punya akun-nya) atau login pakai akun kalian, lalu follow @renitatyas nanti kalian bakal temuin 1 story aku di situ berjudul Pasirku Dari Maluku. Vote dan comment-nya jangan lupa sebagai bentuk dukungan kalian untuk naskahku. Thank so much guys!! I'll see you around. 


Sunday, 21 January 2018

The Greatest Showman | Movie Review

Hari Minggu, tanggal 21 Januari 2018 pukul 12:31 WIB, dan yep waktu ini menunjukkan waktu detik ini gue sedang menulis post ini. Gue baru aja sampai di rumah dari nonton film yang 2 minggu terakhir ini cukup dielu-elukan oleh beberapa netizen di instagram dan juga para movie lovers. Yes, "THE GREATEST SHOWMAN". Pertama kali gue liat thriller film ini ada beberapa minggu lalu ketika gue lagi mau nonton sebuah film di bioskop dan tiba-tiba lewatlah ini movie thriller. Pas gue liat tu thriller, gue langsung ngomong di benak gue (karena saat itu gue lagi nonton sendirian. fyi, gue hampir jarang nonton di bioskop rame-rame), kalau gue bakal nonton ini film. Alasan: ada Zac Efron dong, apapaun film dia pasti bakal gue tonton, secara gue ngefans sama ini orang. Kedua gue sedikit mencium bau-bau musical movie di sini, so maybe of course I would watch this movie. Sampai hari munculnya ini film datanglah. Udah sekitar 2 mingguan kayaknya ini film "playing now" di hampir seluruh bioskop di Indonesia. Tapi dalam 2 minggu itu gue kurang cukup punya waktu untuk ke bioskop jadi gue selalu tunda lagi tunda lagi sampe akhirnya kemarin gue sempet nyerah, "yaudahlah kalau gue keburu habis di bioskop, gue bakal nunggu filmnya ada di internet".

Eh tapi ya namanya rezeki anak sholeh (amin...), siang ini adek gue tiba-tiba ngomong, "kak, nonton The Greatest Showman yuk nanti malem. Gue ada tugas kampus nih disuruh analisa sesuatu dari film itu," gara-gara dia kuliah di bidang Public Relations jadi ya tugasnya nggak jauh-jauh dari beginian, nganalisa film lah, iklanlah. Berangkatlah kita, malem mingguan berdua. Seperti biasa kebiasaan keluarga gue yang kalau ngambil jam nonton film di bioskop itu like always yang jam 9an malem. Entah kenapa kayak udah semacam seperti kebiasaan.

Singkat cerita, ketika itu film mulai, yang ada di kepala gue adalah gue harus bantu adek gue nemuin apa unsur yang mau dicari dalam film ini tentang Public Relations, gara-gara adek gue udah ditemenin minta bantuin pula. Anw biasanya gue kalau nonton di bioskop bawa sesuatu ke dalam untuk dicemal-cemil tapi kali ini gue cuma beli ice milo dinosaurus. Mulai dari beberapa menit awal ini film udah dibuka dengan nyanyian dan tarian yang gue ketika mendengarnya udah merinding. Dan sejak awal film pula yang tadinya posisi duduk gue nyender pas cuma nontonin trailer film-film coming soon (btw pas muncul trailer film "The Maze Runner 3" gue langsung melek. Gue nunggu-nunggu banget lanjutan film ini), lanjut lagi.. sorry, yang tadinya posisi duduk gue nyender pas cuma nontonin trailer film-film coming soon pas ini film The Greatest Showman mulai, gue langsung berubah posisi duduk dan gue baru sadar sampai itu film selesai, I kept sitting on the edge of the chair and without touching my drink. Sampai lupa gue kalau gue bawa minuman. Gue bener-bener melek dan berasa kayak dikasih kejutan di tiap scene-nya.

Don't feel gross, I don't hyperbole this. If this movie deserves my hyperbole, why not? 'cause it does. Mulai dari nilai cerita film yang menurut gue ini tentang bersyukur and dream are the source of happiness. Dikemas dalam bentuk musical movie yang gue adalah pecinta musical movie, mulai dari Don't Cry for Me Argentina (kalian mungkin ada yang belum pernah dengar ini judul film, film jadul jaman nyokap bokap masih pacaran, search aja), lalu ada film Biarkan Bintang Menari (jaman-jaman gue SD ini kalo nggak salah), sampai High School Musical, Camp Rock, dll. Zac Efron? Adalah satu alasan kenapa gue mau banget nonton film ini. Menurut gue dia charismatic dan gentle-nya dapet setiap "moving" dan nyanyi.

Along 2017 up until today, this is one of the movies that deserves my standing applause. Gue recommend banget ini film. Tepat banget gue nonton film ini ketika di saat gue lagi menanti-nantikan jawaban tentang naskah Pasirku Dari Maluku yang udah gue submit sekitar seminggu yang lalu ke salah satu major publisher. Menanti-nantikan seperti ini untuk sesuatu yang menurut gue itu adalah salah mimpi gue bisa mencipatakan suatu karya yang nantinya bisa dipajang, dirasakan oleh orang-orang, in this case untuk pembaca gue nantinya, adalah moment yang nggak bisa gue deskripsikan. Was-was karena semua belum pasti tapi juga masih excited. Bahkan untuk mengisi kekosongan ini tiba-tiba muncul aja gitu ide untuk buat lirik lagu dan lagu sebagai teman buku gue nanti jika dipublish (amin...)

Well, pesan gue dari apa yang gue tulis hari ini, tentang review gue buat The Greatest Showman sampai tentang gue yang lagi membuat lagu, adalah

"dreams will not kill you and make you die if you know how to make it alive. True dreams are things that could deliver happiness for your surroundings and living together with them. So don't be afraid to keep dreaming and don't be hesitate to make it become real. You are the greatest performer of your life." - Renita A

Saturday, 20 January 2018

KEBINGUNGAN HIDUP | Part 1

Hari ini gue bak dikasih satu kesempatan dalam satu tarikan napas untuk merenung apa yang sudah gue lakukan selama 23 tahun hidup gue. Oke, sebelum gue menjelaskan panjang lebar, gue mesti ngasih satu alasan dulu pentingnya kita self-reflection sekali-kali daripada nggak sama sekali. Pertama, gue yakin banget most of us kalau udah happy itu kaya nge-fly, lupa sama daratan, lupa sama kodrat. Dan menurut gue self-reflection itu ada salah satu upaya untuk membuat kita nggak lama-lama nge-fly dan segera stay to the ground lagi. Kedua, self-reflection itu setidaknya mengingatkan kita lagi tentang "start, stop, continue" nya hidup kita. Ngerti kan maksud gue "start, stop, continue" ini apa? Intinya adalah apa sesuatu atau kebiasaan baru yang harus kita mulai dari esok hari kita buka mata, apa sesuatu atau kebiasaan lama yang harus kita hentikan mulai dari esok hari kita buka mata, dan apa sesuatu atau kebiasaan baik yang harus kita lanjutkan untuk diaplikasikan dalam sehari-hari. Jadi menurut gue self-reflection itu penting dan harus jadi rutinitas.

Gue yang sekarang udah dalam usia bukan usia-usianya main-main, manja-manjaan, gue udah dalam usia di mana gue harus bisa membuat keputusan sendiri tanpa bergantung kepada orang lain, sekaligus berani bertanggung jawab atas apa yang udah gue putuskan atau pilih. Gue cukup "amazed" dengan diri gue ketika gue mulai menyadari sesuatu. Bukan gue jumawa, karena kata amazed-nya gue tanda kutipin. Gue terlahir menjadi seorang yang sudah dididik mandiri sejak kecil. Orang tua gue adalah pekerja dan waktu mereka memang 70% dihabiskan di kantor, lalu 30%-nya adalah waktu sepulang kantor di rumah dan weekend. Dari kecil gue terbiasa untuk mengisi waktu-waktu gue yang cukup sepi namun tetap happy hanya dengan menyendiri bersama buku-buku dan imajinasi-imajinasi gue yang cukup liar untuk seumuran gue saat itu. Gue berani bermimpi, gue berani memvisualisasikan menjadi sebuah gambar (karena gue suka gambar) atau dalam bentuk kata-kata (karena gue suka menulis, sama halnya seperti yang detik ini gue lakukan).

Semakin gue beranjak dewasa, gue semakin tahu rupa dunia lebih luas lagi. Gue mulai mengalami yang namanya kebingungan bertanya-tanya apakah gue cukup dengan menjadi diri gue yang sekarang ini yang hanya menghabiskan waktunya untuk baca buku, movie marathon sendiri, nulis, gambar, les ini itu untuk ngejar beasiswa (don't read me as I was that smartest girl. No. I was just a girl who do everything I loved, without any fear to fail). Gue mulai merasa kurang, gue mulai merasa iri, gue mulai merasa butuh tantangan lebih, gue mulai merasa bahwa hidup gue membosankan. Gue mencoba untuk keluar dari cangkang itu, dan yep, gue berhasil keluar dari cangkang itu dan gue mulai berkelana selama bertahun-tahun menjadi Renita yang hampir 180 derajat berbeda than who I was. Since dari dulu gue memang suka merenung, gue a thinker, jadi terkadang setiap perubahan dalam diri gue, gue cukup aware.

Singkatnya, out of your comfort zone is totally fine, you have to explore, indeed. But if you turn to be fake, you thought it was you but people couldn't see that was you, maybe it was not you indeed. What you envy of, maybe you shouldn't be. You're just not seeing something you have to thank for right now in front of you and it is enough. 

Sunday, 7 January 2018

Antara menyerah atau berserah

Gue pikir, gue cukup baik untuk memerankan lakon gue sebagai yang tidak pantang menyerah. Juga memerankan lakon gue sebagai yang takut akan ambisi membabi buta. Apakah dia jodoh gue atau bukan, gue nggak pernah tahu dan tak ada satupun orang di dunia ini yang bisa memberikan jaminannya. Memaksanya pun bukanlah hal bijak yang patut gue lakukan. Jadi destiny remains a secret. Kalau gue menyerah, gue nggak tahu menyerah seperti apa. Apakah dengan gue menghapus semua kontaknya, semua akses yang dapat membuat gue kembali teringat padanya? Apakah dengan gue memaksakan diri untuk move on dengan cara mencari penggantinya? Tidak, ini bukan diri gue. Dari awal gue mengganggap Bertho lebih seperti teman hidup untuk berbagi suka dan duka, daripada pacar. Kami berpisah dalam kondisi yang baik dan dengan kepala dingin. Bahkan untuk mencari penggantinya itu tak pernah jadi pilihan gue. Justru sebaliknya, gue nggak mau melakukan kesalahan yang kedua kalinya, maka menunggu menjadi pilihan gue saat ini. Menunggu siapapun yang Tuhan kirim untuk gue, persis seperti ketika Tuhan tiba-tiba mengirim Bertho ke dalam hidup gue setahun yang lalu. Dengan cara-Nya yang tak pernah terduga. Ya, segitu sulitnya ketika masa itu. Gue harus terlihat tegar di depannya, namun di dalam sebenarnya gue cukup rapuh. Gue mulai mencoba untuk tidak lagi bergantung dengannya, dan melewati hari-hari gue sendiri, tanpa bisa berkeluh kesah lagi dengannya.

Lalu berserah. Berserah itu yang gue tahu ketika usaha sudah semaksimal mungkin dilakukan, maka do’a dan berserah adalah tugas selanjutnya, tanpa ada kata menyerah. Tapi usaha seperti apa yang bisa gue berikan saat ini? Dia sudah jauh di mata, namun untuk gue masih terasa dekat di hati. Rindu itu masih selalu berhembus ke dalam dada.


Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui gue. Gue ingin ikhlas. Ya, gue nggak mau menyerah tapi gue mau gue ikhlas. Jika gue berserah kepada Allah, dan membuat keputusan semata-mata hanya untuk Allah, tanpa mengharapkan imbalan dari manusia, hanya imbalan dari Allah yaitu berupa kedamaian hati, gue akan mempalajarinya apapun caranya. Dan keputusan gue, gue nggak akan pernah melupakan dia. Hati ini akan terbuka untuk siapapun yang ingin dan pantas untuk bersemayam di salah satu sudutnya, termasuk dia. 

Saturday, 6 January 2018

Bertho di Mata Gue

Dia “pasir” gue, persis seperti judul buku ini. Dan ibarat pasir, yang kalau kita genggam terlalu erat pasir itu pasti akan berjatuhan dari sela-sela jari jemari kita. Tapi kalau kita lepaskan genggaman itu, pasir itu akan mudah tertiup angin. Istilah pasir ini juga cukup melekat di kepala Bertho saat pertama kali gue memperkenalkan perumpamaan ini buat dia. Lucu sih kalau diingat karena dia seterima itu.

Pertama kali gue kenal dia, kesan pertama dalam benak gue adalah ini orang nggak menarik-menarik banget kok. Pendiam, nggak pecicilan, biasa aja. Sampai pada akhirnya kita malah kontak-kontakkan dan di situlah gue mulai mengenal keseruan dia. Definisi nyaman dan nyambung seems cliche, tapi itu lah yang gue rasakan. Berawal dari dua kalimat sederhana itu, pada akhirnya kita melewatinya begitu saja tanpa dia harus nembak gue dengan cara yang aneh-aneh. Jujur, Bertho bukan orang yang romantis dan bermulut manis. Dan somehow gue bukan cewek yang suka dimanja-manjain. Jadi paslah kita merasa nyambung, nggak pernah ada banyak nuntut ini itu.

Setelah gue mengenal dia, jadi teman terdekat dia saat itu, gue baru tahu kalau Bertho itu temperamental abis dan jail. Ini adalah dua hal yang paling gue bisa definisikan tentang dia. Mungkin harusnya gue gerah kalau lihat dia lagi emosiannya keluar, apalagi kalau udah dengar dari teman-temannya setemperamental apa sosok Bertho itu. Tapi entah kenapa gue merasa if I could handle his worst, I could get his best. Dan benar itu yang gue dapat. Ibaratnya dia api gue air. Dekat dengan seseorang itu berarti kita punya tugas untuk mengenal sosok dia, luar dan dalam. Komunikasi yang baik dan saling mengerti satu sama lain. Nggak gampang memaksa. Lama kelamaan juga nanti pasangan kita akan ngeluarin sifat aslinya kok. Dari situ tugas baru kita nantinya adalah apakah personality kita bisa masuk dengan personality dia atau nggak. Kalau nggak, ya jangan diterusin. Kalau iya, ya perjuangin.

Tempat nyaman gue untuk bisa cerita tentang mimpi-mimpi gue tanpa dapat intervensi yang menjatuhkan tapi malah dukungan dengan cara memberikan insight gimana cara gue gapai mimpi gue itu adalah dia. Sebisa terbuka itu gue dengan dia, padahal terkadang gue suka takut menceritakan impian-impian gue ke orang lain. Another words, dia adalah sosok paling dewasa kalau sudah soal mendengarkan gue.


Bertho itu nggak romantis dan bukan sweet-talker. Pun dengan gue yang kurang suka dimanja-manjain kalau lagi nggak butuh-butuh banget. Tapi Bertho itu action-oriented person banget. Ada aja hal-hal tak terduga dan spontanitas yang dia lakukan untuk mengekspresikan perasaannya. Intinya gue cukup beruntung pernah mengenal dia dan gue berharap juga sebaliknya. Gue yakin Tuhan punya maksud mempertemukan gue dengan dia. Problemnya adalah apakah kita mau mencari maksud dari Tuhan itu atau nggak. Thanks Bert, udah pernah dan akan selalu menjadi bagian dari hidup aku. 

Gue yang ingin mulai memperkanlan Islam kepadanya, tapi apakah gue sendiri sudah benar-benar mengenal Islam?

Dia sebiasa itu setelah malam keputusan itu. Gue juga merasa lebih mudah ngejalaninnya, karena dia yang tidak pernah benar-benar berubah jauh di dalam hatinya. Suatu malam, ada kebingungan yang melanda hati gue. Gue berpikir keras. Gue yang ingin memperkenalkan Islam kepadanya, tapi apakah gue sendiri sudah benar-benar mengenal Islam? Muncul pertanyaan-pertanyaan di dalam kepala gue. Jika memang ada istilah “Islam telah memilih gue, jadi bersyukurlah”, apakah fair jika gue tidak benar-benar memilih Islam dengan cara berkenalan dengannya lebih jauh? Jangan-jangan selama ini gue hanya sholat dan puasa tanpa benar-benar memaknai keislaman gue. Kalau memang gue ingin mengenal Islam lebih dalam, bagaimana caranya gue mengenal tanpa gue mengerti terlebih dahulu wajah-wajah keyakinan lainnya. Sama seperti kita ingin memilih teman hidup, kita pasti harus mengenal banyak teman dulu untuk tahu mana yang benar-benar baik, mana yang benar-benar akan membawa kita ke surganya Tuhan. Ada yang menggerakkan hati gue malam itu sampai akhirnya gue memberanikan diri untuk meminjam Alkitab Bertho. 

Selama gue di Ambon juga, gue mencoba untuk ikut menemani dia untuk ibadah Minggu. Hal ini gue lakukan semata-mata gue ingin mengenal dan mengerti apa yang dia yakini. Hampir setiap hari gue meluangkan waktu untuk membaca Alkitab, nonton ceramah-ceramah di Youtube, tanpa sepengetahuan Bertho. Banyak hal yang berharga dan nggak akan pernah gue lupakan sampai mati dalam spiritual journey gue ini. Ya gue menyebutnya spiritual journey karena ini pertama kalinya gue seperti berinteraksi dengan kenyataan melalui Alkitab dan Al-Qur’an. Suatu malam, ketika gue sudah hampir pada akhir dari Alkitab, air mata gue tumpah ruah tidak terbendung. Gue ambil wudhu dan sholat Isya’. Setelahnya gue melakukan sujud panjang dan berterima kasih dengan Allah tentang kesempatan belajar hal paling esensial dalam hidup yang mungkin kalau gue tidak pernah mencari, gue tidak akan pernah menemukan. Malam itu hati gue jauh lebih terang dan ikhlas tentang hubungan gue dengan Bertho. Hal yang paling gue sesali sampai saat ini mungkin adalah gue nggak punya kesempatan untuk share ini kepada Bertho. Tapi gue percaya, kalau Allah ngasih kesempatan ke Bertho, Bertho akan menemukannya. Tapi satu hal yang bisa gue share disini adalah bahwa dua agama ini sebenarnya sejalan. Sampai saat ini pada akhirnya gue tidak pernah berhenti membaca Al-Qur’an beserta arti, karena gue tahu ilmu itu nggak akan berhenti sampai akhir hayat kita. Dua agama ini sama-sama mengajarkan kebaikan yang serupa. Sepengalaman gue menemani Bertho ke gereja pun, ceramah-ceramahnya selalu memotivasi gue untuk selalu berbuat kebaikan terhadap sesama manusia. Jadi sekarang logis buat gue bahwa agama itu benar adalah pedoman hidup. Manual book-nya adalah kitab. Nggak ada agama yang mengajarkan kejahatan. Yang jahat itu adalah manusianya.

Dan pada akhirnya dari perjalanan ini, gue yang jadi banyak belajar tentang Islam. Memutuskan memakai hijab-pun adalah karena dua kitab ini, segalanya menjadi selalu beralasan. Yang pertama adalah lillahi ta’ala (segala sesuatunya hanya untuk Allah semata) dan yang kedua menutup aurat itu adalah bentuk cinta Tuhan kepada umat-Nya, untuk melindungi. Sampai saat ini, nama Bertho selalu ada dalam do’a gue. Gue nggak lagi meminta Tuhan agar dia menjadi pasangan gue suatu hari nanti. Tapi yang gue minta adalah agar dia selalu berada dalam lindungan Allah dan menjadi orang yang benar-benar mendapatkan surga-Nya kelak. Urusan jodoh, inshaAllah gue sudah pasrahkan kepada Allah, dan hanya itu yang membuat gue menjadi damai sampai sekarang. Do’a gue untuk dia tulus bentuk sayang gue dan cinta gue terhadap seorang teman baik yang pernah menjadi teman hidup gue. 

Gue sudah menemukan maksud Tuhan. Tapi apa hanya gue?

Semakin lama gue menjalani kedekatan ini dengan Bertho, semakin gue bertanya-tanya dalam hati. Kira-kira ujungnya akan seperti apa? Gue nggak munafik. Gue berasal dan dilahirkan dari keluarga Muslim yang meskipun tidak sealim itu tapi mereka berpegang teguh pada prinsip bahwa hubungan berbeda agama itu tidak disarankan. Gue sempat menemukan kesulitan untuk memperkenalkan Bertho ke orang tua gue, gue juga sempet takut berkanalan dengan keluarga Bertho, takut pada akhirnya kita berdua akan sama-sama dilarang untuk saling dekat. Tapi alhamdulillah pada kenyataannya, orang tua gue meminta gue untuk menjalani dan bertanggung jawab terhadap apa yang gue pilih, walaupun tetap jika hubungan ini berlanjut artinya Bertho harus masuk Islam. Gue juga nggak munafik, kalau hubungan gue dengan dia ini nggak main-main. Dan gue butuh sosok yang bisa mimpin gue sholat nantinya. Gue juga nggak munafik kalau gue ingin memperkenalkan agama gue kepada Bertho.

Gue mulai sering berpikir tentang hubungan gue ini. Tapi setiap gue mau mencoba untuk membicarakan ini dengan Bertho, seems he was not interested, jadi gue berusaha sabar aja. Mungkin hubungan gue ini seperti bom waktu dan gue nggak punya kendali untuk menjinakkan bom waktu itu. Dan benar saja, pada akhirnya bom waktu itu dikendalikan oleh Bertho. Dia hanya bisa menghentikkan waktunya tanpa bisa menjinakkannya. Toh bom itu akan tetap harus meledak. Dan dia melakukannya alih-alih untuk menyelamatkan hati gue. Gue merasakan ledakannya, pun dia juga, tapi setidaknya tidak menghacurkan kita berdua.

Saat itupun gue sudah mengerti, memaksakan Bertho untuk mengenal agama gue itu nggak mudah. Dan memang seharusnya gue tidak memaksakannya. Semua harusnya tergantung kepada Bertho, apakah dia mau mengenal gue dengan dia berkenalan dengan Islam. Bertho lahir dalam keluarga yang taat dengan agamanya. Meskipun untuk Bertho sendiri dia termasuk yang biasa-biasa aja, tapi gue paham dia pun nggak bisa lepas dengan latar belakang keluarganya. Dan.... mengucapkan dua kalimat syahadat seemed impossible pada saat itu. Gue pun mulai putus asa.

Singkatnya, seperti yang gue bilang tadi, Bertho yang pada akhirnya menghentikkan waktu bomnya tanpa bisa menjinakkannya. Ternyata selama itu Bertho juga menyimpan pertanyaan yang sama di benaknya. Sepulangnya gue dari Eropa dan setelah gue merayakan Idul Adha tahun itu, Bertho mengutarakan isi hatinya ke gue melalui telepon, mulai dari kegundahan tentang keyakinan sampai menyampaikan bagaimana rasa sayangnya terhadap gue. Ketika gue mendapat kabar yang tiba-tiba ini darinya dan bahkan di saat gue tidak ada di sisinya saat itu serta keadaan kita yang terlalu jauh dari kata nggak baik, mungkin sedikit menggoreskan luka di hati gue. Dalam benak gue, jadi selama ini perjuangan gue mempertahankan dia dengan segala kegundahan gue, harus berhenti di sini? Tapi bersamaan dengan perasaan itu gue seperti sudah siap dengan hari itu. Dari awal gue menerima hubungan ini, gue udah bicara dengan Tuhan bahwa gue ingin jika hubungan ini harus berujung, aku mau Engkau berikan akhir yang baik. Baik dalam definisi-Mu, duhai Allah. Dan, tidak sesulit itu pada akhirnya kita mengakhiri hubungan ini. Lalu, apakah itu benar-benar berakhir setelahnya? Tidak. Bertho tidak pernah benar-benar berubah. Dia masih Bertho gue, Bertho yang gue kenal baik. Mungkin definisi akhir buat kita berdua adalah menerima kenyaatannaya dulu saat ini, tanpa harus terikat, tanpa harus nantinya akan menyakiti satu sama lain. Jadi again, in another words, gue nggak menyesal dengan keputusan yang sama-sama kita sepakati berdua ini. 

Dari awal, dia adalah temanku. Teman hidupku.



Perpisahan menjelma menjadi sebuah bait panjang puisi
Tak terelakkan sudah bahwa kami menoreh cerita kasih sayang tulus
Perpisahan itu menjadi tak berarti perpisahan
Perpisahan itu menjadi pelabuhan
Pelabuhan baru
Untuk aku dan kamu


Harusnya gue udah tahu dari awal bahwa hubungan berbeda agama itu terkadang tak berujung manis. Hampir sekian persennya tak begitu berhasil. Ketika gue menjalin hubungan itu dengannya tidak sedikit yang menasihati gue tentang hubungan ini, tapi emang dasar gue yang nggak pernah mau menyerah untuk menyayangi seseorang, apalagi kalau gue merasakan ketulusan jika gue berada di dekat dia dan saat itu nggak ada alasan yang membuat gue harus menyerah saat itu juga. Kalau putus karena salah satu dari kita ada yang selingkuh, mungkin gue akan lebih mudah untuk ninggalin dia. Tapi kalau putus hanya karena perbedaan prinsip yang mungkin saat itu belum terlalu berdampak pada hubungan baik gue dengan dia, gue nggak tahu apa rasanya, dan sekarang gue merasakannya. Buat gue, seorang Bertho adalah teman hidup. Gue terkadang males nyebut dia pacar, ngenalin dia ke orang tua gue aja bukan dengan istilah pacar tapi teman dekat, karena gue super picky untuk nyebut seseorang itu teman dekat. Teman dekat menurut gue sespesial itu.

Kenapa gue bilang dia teman hidup, karena bahkan sampai saat ini, sampai pada akhirnya kita harus ngelewatin banyak drama hidup ini-itu, break (istirihat), kita nggak pernah merasa canggung untuk ngobrol akrab lagi. Dan yang spesial buat gue, gue nggak perlu harus terlihat perfect di depan dia. Apa adanya, dan itu yang bikin gue nggak terbebani. Selama 23 tahun hidup gue, baru kali ini gue dapat partner yang gue ngerasa benar-benar gue disambut apa adanya.

By the way, gue memulai buku ini dengan kembali mengingat masa-masa indah gue dengan dia. Gue kemas menjadi sebuah cerita dengan nama-nama tokoh yang sudah gue design, sebagai bentuk prasasti bahwa gue pernah merasakan kedekatan dengan seorang teman yang dapat menciptakan sesuatu yang positif dalam hidup gue. Bertho sangat mendukung keputusan gue ini untuk mengisahkan cerita kita kepada pembaca-pembaca buku gue nanti. Gue juga berharap semoga dengan lahirnya buku ini akan menjadi sebuah cerita baru untuk gue dan Bertho serta bisa membuat karya-karya positif lainnya berdua dengan dia, entah as a friend atau apapun yang baik buat kita.


Sinopsis Naskah Pasirku Dari Maluku

Jika engkau mencintai seseorang
Cintailah setulus yang kau bisa
Jika dia menyakitimu
Jika kau tak mampu menggenggam cinta itu sendirian
Jika pedih itu datang
Biarkan rasa sakit itu menyapamu
Biarkan lah ia masuk
Dan biarkan pula ia mencari jalan keluarnya
Hingga rasa sakit dan pedih itu tahu
Bahwa tempatnya bukanlah di hatimu

Pasirku Dari Maluku adalah satu hal yang aku abadikan dalam sebotol kaca. Yang suatu hari nanti bisa jadi kulempar jauh untuk aku kembalikan pada lautan, ataukah mungkin akan aku abadikan selama-lamanya, menjadi milikku selama-lamanya.


Pasirku Dari Maluku adalah saksi benteng besar di antara dua cinta yang tak mampu cinta itu panjat, agar bertemu dan bersatu untuk selama-selamanya. Tetapi, cinta itu sadar bahwa benteng besar itu hanyalah benteng besar. Ada yang Maha besar dari benteng itu sendiri dan Dia-lah yang menciptakan cinta. Maka mengembalikan cinta kepada-Nya adalah pilihan paling tepat jika kita benar-benar berdo'a untuk cinta.