Dia “pasir” gue, persis seperti judul buku ini. Dan
ibarat pasir, yang kalau kita genggam terlalu erat pasir itu pasti akan
berjatuhan dari sela-sela jari jemari kita. Tapi kalau kita lepaskan genggaman
itu, pasir itu akan mudah tertiup angin. Istilah pasir ini juga cukup melekat
di kepala Bertho saat pertama kali gue memperkenalkan perumpamaan ini buat dia.
Lucu sih kalau diingat karena dia seterima itu.
Pertama kali gue kenal dia, kesan pertama dalam benak gue
adalah ini orang nggak menarik-menarik banget kok. Pendiam, nggak pecicilan,
biasa aja. Sampai pada akhirnya kita malah kontak-kontakkan dan di situlah gue
mulai mengenal keseruan dia. Definisi nyaman dan nyambung seems cliche, tapi
itu lah yang gue rasakan. Berawal dari dua kalimat sederhana itu, pada akhirnya
kita melewatinya begitu saja tanpa dia harus nembak gue dengan cara yang
aneh-aneh. Jujur, Bertho bukan orang yang romantis dan bermulut manis. Dan
somehow gue bukan cewek yang suka dimanja-manjain. Jadi paslah kita merasa
nyambung, nggak pernah ada banyak nuntut ini itu.
Setelah gue mengenal dia, jadi teman terdekat dia saat
itu, gue baru tahu kalau Bertho itu temperamental abis dan jail. Ini adalah dua
hal yang paling gue bisa definisikan tentang dia. Mungkin harusnya gue gerah
kalau lihat dia lagi emosiannya keluar, apalagi kalau udah dengar dari
teman-temannya setemperamental apa sosok Bertho itu. Tapi entah kenapa gue
merasa if I could handle his worst, I could get his best. Dan benar itu yang
gue dapat. Ibaratnya dia api gue air. Dekat dengan seseorang itu berarti kita
punya tugas untuk mengenal sosok dia, luar dan dalam. Komunikasi yang baik dan
saling mengerti satu sama lain. Nggak gampang memaksa. Lama kelamaan juga nanti
pasangan kita akan ngeluarin sifat aslinya kok. Dari situ tugas baru kita
nantinya adalah apakah personality kita bisa masuk dengan personality dia atau
nggak. Kalau nggak, ya jangan diterusin. Kalau iya, ya perjuangin.
Tempat nyaman gue untuk bisa cerita tentang mimpi-mimpi
gue tanpa dapat intervensi yang menjatuhkan tapi malah dukungan dengan cara
memberikan insight gimana cara gue gapai mimpi gue itu adalah dia. Sebisa
terbuka itu gue dengan dia, padahal terkadang gue suka takut menceritakan
impian-impian gue ke orang lain. Another words, dia adalah sosok paling dewasa
kalau sudah soal mendengarkan gue.
Bertho itu nggak romantis dan bukan sweet-talker. Pun
dengan gue yang kurang suka dimanja-manjain kalau lagi nggak butuh-butuh banget.
Tapi Bertho itu action-oriented person banget. Ada aja hal-hal tak terduga dan
spontanitas yang dia lakukan untuk mengekspresikan perasaannya. Intinya gue
cukup beruntung pernah mengenal dia dan gue berharap juga sebaliknya. Gue yakin
Tuhan punya maksud mempertemukan gue dengan dia. Problemnya adalah apakah kita
mau mencari maksud dari Tuhan itu atau nggak. Thanks Bert, udah pernah dan akan
selalu menjadi bagian dari hidup aku.
No comments:
Post a Comment