Saturday, 6 January 2018

Bertho di Mata Gue

Dia “pasir” gue, persis seperti judul buku ini. Dan ibarat pasir, yang kalau kita genggam terlalu erat pasir itu pasti akan berjatuhan dari sela-sela jari jemari kita. Tapi kalau kita lepaskan genggaman itu, pasir itu akan mudah tertiup angin. Istilah pasir ini juga cukup melekat di kepala Bertho saat pertama kali gue memperkenalkan perumpamaan ini buat dia. Lucu sih kalau diingat karena dia seterima itu.

Pertama kali gue kenal dia, kesan pertama dalam benak gue adalah ini orang nggak menarik-menarik banget kok. Pendiam, nggak pecicilan, biasa aja. Sampai pada akhirnya kita malah kontak-kontakkan dan di situlah gue mulai mengenal keseruan dia. Definisi nyaman dan nyambung seems cliche, tapi itu lah yang gue rasakan. Berawal dari dua kalimat sederhana itu, pada akhirnya kita melewatinya begitu saja tanpa dia harus nembak gue dengan cara yang aneh-aneh. Jujur, Bertho bukan orang yang romantis dan bermulut manis. Dan somehow gue bukan cewek yang suka dimanja-manjain. Jadi paslah kita merasa nyambung, nggak pernah ada banyak nuntut ini itu.

Setelah gue mengenal dia, jadi teman terdekat dia saat itu, gue baru tahu kalau Bertho itu temperamental abis dan jail. Ini adalah dua hal yang paling gue bisa definisikan tentang dia. Mungkin harusnya gue gerah kalau lihat dia lagi emosiannya keluar, apalagi kalau udah dengar dari teman-temannya setemperamental apa sosok Bertho itu. Tapi entah kenapa gue merasa if I could handle his worst, I could get his best. Dan benar itu yang gue dapat. Ibaratnya dia api gue air. Dekat dengan seseorang itu berarti kita punya tugas untuk mengenal sosok dia, luar dan dalam. Komunikasi yang baik dan saling mengerti satu sama lain. Nggak gampang memaksa. Lama kelamaan juga nanti pasangan kita akan ngeluarin sifat aslinya kok. Dari situ tugas baru kita nantinya adalah apakah personality kita bisa masuk dengan personality dia atau nggak. Kalau nggak, ya jangan diterusin. Kalau iya, ya perjuangin.

Tempat nyaman gue untuk bisa cerita tentang mimpi-mimpi gue tanpa dapat intervensi yang menjatuhkan tapi malah dukungan dengan cara memberikan insight gimana cara gue gapai mimpi gue itu adalah dia. Sebisa terbuka itu gue dengan dia, padahal terkadang gue suka takut menceritakan impian-impian gue ke orang lain. Another words, dia adalah sosok paling dewasa kalau sudah soal mendengarkan gue.


Bertho itu nggak romantis dan bukan sweet-talker. Pun dengan gue yang kurang suka dimanja-manjain kalau lagi nggak butuh-butuh banget. Tapi Bertho itu action-oriented person banget. Ada aja hal-hal tak terduga dan spontanitas yang dia lakukan untuk mengekspresikan perasaannya. Intinya gue cukup beruntung pernah mengenal dia dan gue berharap juga sebaliknya. Gue yakin Tuhan punya maksud mempertemukan gue dengan dia. Problemnya adalah apakah kita mau mencari maksud dari Tuhan itu atau nggak. Thanks Bert, udah pernah dan akan selalu menjadi bagian dari hidup aku. 

No comments:

Post a Comment