Thursday, 18 February 2021

#MenujuSelamanya - "Rumah"

 


Kalau pada postingan sebelumnya adalah suara dari aku. Sekarang aku mau coba untuk menuliskan suara dari Fauzan (karena dia bukan penulis, jadi diwakilkan). Tulisan ini dari apa yang pernah Fauzan sampaikan ke aku. 

"Rumah". Maksud dari judul postingannya apa sih?
Kalau deskripsi aku untuk Fauzan adalah "cermin". Deskripsi Fauzan untuk aku adalah "rumah". Meskipun kita baru kenal dan dekat hampir 1 tahun, tapi bersyukurnya aku, kita udah banyak dikasih rintangan sama Allah. Macam-macam bentuknya, yang ternyata nguji mental kita banget, bertahan atau nggak. Dan subhanaAllah sayang, kita nggak pernah sampai terlintas dipikiran untuk meninggalkan satu sama lain. Karena aku "rumah" kamu bilang.

Kamu bilang, "aku mungkin bisa dan boleh kemarin-kemarin masih ke sana kemari. Tapi hati aku nggak bisa bohong, kalau kamu tempat terakhir untuk aku kembali. Untuk selamanya tinggal di sana. Bangun rumah tangga yang damai di dalamnya."

Sejak itu, perlahan tapi pasti, kamu yakinin aku dengan sedikit demi sedikit perubahan baik di diri kamu. 

Inget sayang, aku pernah bilang. Hidup aku untuk satu tujuan: semoga siapapun orang yang pernah kenal aku di hidupnya (termasuk kamu), setidaknya mereka bisa belajar sedikit dari aku untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi suatu hari, itu bisa menjadi amal jariyah buat aku kelak. 

Terima kasih sudah menawarkan duniamu untukku, dan mengajakku untuk jadi bagian dari duniamu. Semoga kelak sampai surga ya ☺

#MenujuSelamanya - Jodoh Itu Seperti Cerminan Diri


H minus sekian... to our engagement.
Kepikiran untuk nulis perjalanan aku sama dia yang ternyata kalau dipikir-pikir, worth to be a lesson, nggak cuma buat diri kita berdua, tapi juga buat yang lainnya yang kebetulan sempat baca blog-ku ini. 

Kalau sebelumnya terakhir kali aku pernah sampai bikin buku / novel yang judulnya Pasirku Dari Maluku untuk mengabadikan seseorang yang pernah singgah di hidupku dan menjadi sebuah pelajaran serta perjalanan berharga (nggak semua orang lho bisa gue abadikan jadi tulisan), ternyata yang aku pikir aku nggak bisa nulis tentang kamu, Zan, sekarang udah mulai kepikiran mau nulis apa. Kali ini bukan dalam bentuk cerita fiksi, melainkan journal. And you are worth to be my forever journal.  

Aku mulai dari, siapa dia di mataku. Dua kata, "cerminan diri". Nggak tahu kenapa, kata-kata ini yang selalu ada di kepala kalau aku pikirin dia. Benar-benar cerminan diri. Bukan berarti 100% sama. 

Kalau pada hubungan sebelum-sebelumnya aku lebih banyak ketemu dengan orang-orang yang justru lebih banyak 180 derajat berbedanya sama aku, kali ini ketemu kamu beda banget. Aku lebih kayak melihat diri aku sendiri di cermin. Layaknya fungsi cermin: selian untuk mengapresiasi dan aktualisasi diri, juga untuk sebagai alat buat bantu kita koreksi diri. Nah itu kamu! 

Banyak sifat-sifat menyebalkan di diri kamu, yang ternyata tanpa aku sadari, itu juga sifat aku, dan ternyata begini lho menyebalkannya berhadapan sama orang-orang seperti kita. Dari situ aku bisa koreksi diri, juga reminder kamu. Tapi banyak pula sifatmu yang kebalikan dari sifatku, yang akhirnya jadi tolak ukur buat aku untuk memantaskan diri (lebih tepatnya memperbaiki diri). Kayak harus lebih care sama diri sendiri, harus lebih peka sama lingkungan sekitar, kurang-kurangin yang namanya lupaan. Dan selama perjalanan kita, aku amaze karena kamu nggak pernah menyerah untuk selalu bisa jadi pengingat yang baik buat aku, sembari kamu memantaskan diri untuk benar-benar jadi bagian dari hidupku. Selamanya ☺ Thanks for you