"senyum itu ibadah."
"positive thinking will lead positive attitude and give positive outcomes."
Siapa sangka kalau berpikir positif dan tersenyum itu adalah obat untuk menyembuhkan luka, kecewa, galau, gundah, amarah, kesal, dengki. Selain berdo'a, beribadah, cara ini adalah yang aku selalu gunakan kalau dada sudah kembang kempis. Kalau kantung mata rasanya sudah dipenuhi air mata yang akan segera tumpah. Biasanya aku biarkan tumpah jika memang sudah penuh. Karena aku tahu, setelah itu yang tertinggal hanya aura positif, asal aku memulainya dengan berpikir positif.
There will be good time after. There will be good things coming. But I have to be patient. I have to stay kind. I have to stay loving and let people keep loving me. But stay kind.
Setelah itu tarik napas dari senyum. Senyum meski sukar. Senyum karena di dalam kepalamu, kamu melihat kebaikan dari dirimu dan hasil setelahnya.
Itulah treatment yang biasa aku lakukan. Hasilnya sejauh ini gimana? Nggak usah ditanya. Dengan segala kesibukan, kepenatan, dan problematika hidup, rasanya itu semua aku rasakan seperti bagian dari hidup aja yang akan ngajarin aku banyak hal dan shaping aku menjadi good millennials.
Dicoba ya ketika kalian sedang gundah :)
Say hello to tomorrow you. The better version of you than yesterdays. You are precious, you are kind, and you are matter.
Monday, 28 May 2018
Wednesday, 16 May 2018
Cerita Dari Pontianak
Hi, guys! Gue baru aja kembali dari Pontianak, by the way. Ya, mungkin sebagian dari kalian yang follow instagram gue dan cukup rajin ngelewatin insta story gue (meskipun ngelewatin doang lah ya, nggak mampir lama-lama), pasti kalian tahu kalau akhir pekan kemarin, tiba-tiba nggak ada angin, nggak ada hujan, gue berangkat ke Pontianak. Rencana yang nggak perlu gue rencanakan berbulan-bulan. Ketika gue merasa gue punya dana untuk berangkat, tanpa gue harus kekurangan ketika gue balik, gue langsung memutuskan untuk kesana.
Dan kali ini dua hal yang akan gue bahas di sini. Pertama, pertanyaan orang-orang kenapa Pontianak? Ada apa di sana? Apa yang lo cari? Kedua, ada beberapa orang yang berbaik hati mengingatkan gue untuk berhati-hati dengan segala macam orang yang ada di sana. Suku ini lah, suku itu lah.
Gue bahas dari yang pertama dulu. Kenapa Pontianak? Karena itu salah satu kota dari sekian banyak tempat di Indonesia yang belum pernah gue kunjungi. Jadi pertama-tama gue punya misi. Dalam waktu dekat ini, gue pengen mengunjungi tempat-tempat yang mewakili suatu pulau di Indonesia. Saking banyaknya kan ya pulau di Indonesia. Terutama pulau besarnya. Jadi ketika orang tanya, lo udah pernah ke Kalimantan belum? Gue jawab pastinya, udah dong. Lo udah pernah ke Sulawesi belum? Gue jawab pastinya, udah dong. Lo udah pernah ke Maluku belum? Sekali lagi gue jawab pastinya, udah dong. Nah bangga aja gitu ketika lo sedikit demi sedikit nabung untuk mengenal dan mengerti negara lo sendiri. Gue udah pernah ke beberapa negara di luar Indonesia, dan gue merasa belum mengenal negara sendiri itu belum sepenuhnya gue mengerti macam manusia, apalagi yang ada di negara gue sendiri. Sekarang, dengan gue mengunjungi satu kota ke kota lain, satu tempat ke tempat lain, satu pedalaman ke pedalaman lain, di Indonesia, gue jadi punya bahan pembicaraan baru atau saran baru untuk sesama. Oke, skip dulu soal ini. Jadi intinya gue milih Pontianak, karena gue belum pernah ke Kalimantan. Mau sih ke Papua atau NTT, tapi masalahnya jauh bro, dana nggak memadai. Di samping itu, gue juga baru kenal seseorang yang kebetulan dia adalah seorang penulis dari Pontianak. Lahir, tinggal, dan besar di sana. Jadi quality time gue setidaknya ada value added-nya untuk buku gue yang akan gue segera publikasikan, amin.
Hal kedua yang menggugah hati gue untuk menulis dan share ini di sini, adalah tentang betapa gue bersyukur sekaligus gemes dengan yang satu ini. Yaitu ketika ada beberapa orang yang tahu gue mau pergi ke Pontianak, gue langsung ketiban banyak nasihat.
"Ren, jangan sembarangan bicara sama orang ya. Di Pontianak itu masih banyak suku dayaknya, dan budaya mereka masih kentel banget dengan yang namanya santet-santet orang."
"Kak, hati-hati ya di sana. Jangan sembarangan makan-makanan yang disuguhi sama orang."
Dan masih banyak Kak, Ren, lainnya...
Yang gue rasakan pertama kali mendengar hal itu. Gue gemes sih sejujurnya. Kira-kira mereka yang punya pikiran seperti itu, sering jalan-jalan nggak ya? Suka jalan-jalan nggak ya? Terus, apa jangan-jangan karena pikiran-pikiran semacam itu, mereka jadi maju mundur untuk jalan-jalan di negara mereka sendiri? Exploring negara mereka sendiri. Tapi di samping itu, gue bersyukur. Bersyukur karena masih banyak orang-orang yang peduli sama gue artinya. Mereka cuma sekedar menasehati kok, tidak melarang. Kalau sampe melarang, nah lain cerita reaksi dan komentar gue haha.
Gue terima kasih dengan segala nasihat setiap gue mau pergi ke suatu tempat. Tak lantas membuat gue jadi sombong, hal semacam itu gue jadikan pengingat aja untuk gue lebih mawas diri. Bukannya hati-hati ya. Hati-hati menurut gue adalah sesuatu yang nggak perlu kita terlalu tampilkan di permukaan. Alih-alih malah kita jadi kayak bikin boarder untuk diri kita sendiri dan lingkungan, jadi malah nggak aware dengan sekitar. Ketika kita traveling, 90% apa yang terjadi di perjalanan adalah the way we bring ourselves, the way we deal with people, the way we talk to people. 10% nya lagi nasib aja sih dan restu orang tua. Jadi maksud gue gemes di sini adalah, gue encourage banget untuk teman-teman yang mungkin masih enggan atau takut untuk traveling, kalau kalian nggak bisa sendirian, nggak berani, nggak boleh, atau semacamnya, kalian bisa cari partner jalan atau teman-teman yang punya interest yang sama dengan kalian. Jangan sampai hal-hal yang belum tentu terjadi, dan belum tentu semenakutkan itu, jadi malah menghalangi kalian untuk melihat dunia lebih luas lagi. Jagat raya ini nggak sebatas kota Jakarta aja, Mbak, Mas.
Sedikit tentang kota Pontianak yang bisa gue bagi di sini. Selebihnya, gue saranin kalian mampir-mampir lah ke sana kapan-kapan ya. Transportasi umumnya udah nggak perlu dikhawatirkan lagi deh. Dua trend orang Pontianak dari segi pemakaian transportasinya: kalau nggak mandiri banget (a.k.a punya kendaraan bermotor sendiri); atau digital-minded banget (a.k.a gojek dan grab meraja di sana dibanding angkot dan semacamnya). Jadi kalau kalian punya teman atau kenalan baik di sana, mintalah dia untuk jadi tebengan lo selama di sana, sambil lo traktir-traktir tapi ya, jangan pure gratisan aja, kecuali dia yang minta. Tapi ya setidaknya berikan lah rasa terima kasih kita meskipun hanya secangkir es kelapa. Nah, tapi kalau tidak ada yang bisa kalian andelin untuk dijadikan tebengan, gojek atau grab udah mantep kok. Rate-nya yang pasti lebih murah daripada rate Jakarta.
Lalu, Pontianak itu memang lebih terkenal dengan wisata kulinernya. Jadi jangan ekspektasi untuk wisata alam di sana, kecuali kalian mau sedikit berjalan agak jauh beberapa jam ke utara (kalau nggak salah). Ada daerah Singkawang di sana yang memang terkenal dengan wisata pantainya. 4 jam kurang lebih dari kota Pontianak. Tapi gue merasa terpuaskan dengan hanya duduk-duduk bersama orang-orang di tepian sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Jadi worth it kok untuk berlibur ke Pontianak. Banyak-banyakin deh ketemu sama banyak orang. Banyak dengerin mereka, jangan hanya kita yang curhat melulu. InshaAllah, kalian bakal mengerti kalau nge-bom bukan solusi untuk menciptakan damai.
Next destination?? Kupang, gimana?
Dan kali ini dua hal yang akan gue bahas di sini. Pertama, pertanyaan orang-orang kenapa Pontianak? Ada apa di sana? Apa yang lo cari? Kedua, ada beberapa orang yang berbaik hati mengingatkan gue untuk berhati-hati dengan segala macam orang yang ada di sana. Suku ini lah, suku itu lah.
Gue bahas dari yang pertama dulu. Kenapa Pontianak? Karena itu salah satu kota dari sekian banyak tempat di Indonesia yang belum pernah gue kunjungi. Jadi pertama-tama gue punya misi. Dalam waktu dekat ini, gue pengen mengunjungi tempat-tempat yang mewakili suatu pulau di Indonesia. Saking banyaknya kan ya pulau di Indonesia. Terutama pulau besarnya. Jadi ketika orang tanya, lo udah pernah ke Kalimantan belum? Gue jawab pastinya, udah dong. Lo udah pernah ke Sulawesi belum? Gue jawab pastinya, udah dong. Lo udah pernah ke Maluku belum? Sekali lagi gue jawab pastinya, udah dong. Nah bangga aja gitu ketika lo sedikit demi sedikit nabung untuk mengenal dan mengerti negara lo sendiri. Gue udah pernah ke beberapa negara di luar Indonesia, dan gue merasa belum mengenal negara sendiri itu belum sepenuhnya gue mengerti macam manusia, apalagi yang ada di negara gue sendiri. Sekarang, dengan gue mengunjungi satu kota ke kota lain, satu tempat ke tempat lain, satu pedalaman ke pedalaman lain, di Indonesia, gue jadi punya bahan pembicaraan baru atau saran baru untuk sesama. Oke, skip dulu soal ini. Jadi intinya gue milih Pontianak, karena gue belum pernah ke Kalimantan. Mau sih ke Papua atau NTT, tapi masalahnya jauh bro, dana nggak memadai. Di samping itu, gue juga baru kenal seseorang yang kebetulan dia adalah seorang penulis dari Pontianak. Lahir, tinggal, dan besar di sana. Jadi quality time gue setidaknya ada value added-nya untuk buku gue yang akan gue segera publikasikan, amin.
Hal kedua yang menggugah hati gue untuk menulis dan share ini di sini, adalah tentang betapa gue bersyukur sekaligus gemes dengan yang satu ini. Yaitu ketika ada beberapa orang yang tahu gue mau pergi ke Pontianak, gue langsung ketiban banyak nasihat.
"Ren, jangan sembarangan bicara sama orang ya. Di Pontianak itu masih banyak suku dayaknya, dan budaya mereka masih kentel banget dengan yang namanya santet-santet orang."
"Kak, hati-hati ya di sana. Jangan sembarangan makan-makanan yang disuguhi sama orang."
Dan masih banyak Kak, Ren, lainnya...
Yang gue rasakan pertama kali mendengar hal itu. Gue gemes sih sejujurnya. Kira-kira mereka yang punya pikiran seperti itu, sering jalan-jalan nggak ya? Suka jalan-jalan nggak ya? Terus, apa jangan-jangan karena pikiran-pikiran semacam itu, mereka jadi maju mundur untuk jalan-jalan di negara mereka sendiri? Exploring negara mereka sendiri. Tapi di samping itu, gue bersyukur. Bersyukur karena masih banyak orang-orang yang peduli sama gue artinya. Mereka cuma sekedar menasehati kok, tidak melarang. Kalau sampe melarang, nah lain cerita reaksi dan komentar gue haha.
Gue terima kasih dengan segala nasihat setiap gue mau pergi ke suatu tempat. Tak lantas membuat gue jadi sombong, hal semacam itu gue jadikan pengingat aja untuk gue lebih mawas diri. Bukannya hati-hati ya. Hati-hati menurut gue adalah sesuatu yang nggak perlu kita terlalu tampilkan di permukaan. Alih-alih malah kita jadi kayak bikin boarder untuk diri kita sendiri dan lingkungan, jadi malah nggak aware dengan sekitar. Ketika kita traveling, 90% apa yang terjadi di perjalanan adalah the way we bring ourselves, the way we deal with people, the way we talk to people. 10% nya lagi nasib aja sih dan restu orang tua. Jadi maksud gue gemes di sini adalah, gue encourage banget untuk teman-teman yang mungkin masih enggan atau takut untuk traveling, kalau kalian nggak bisa sendirian, nggak berani, nggak boleh, atau semacamnya, kalian bisa cari partner jalan atau teman-teman yang punya interest yang sama dengan kalian. Jangan sampai hal-hal yang belum tentu terjadi, dan belum tentu semenakutkan itu, jadi malah menghalangi kalian untuk melihat dunia lebih luas lagi. Jagat raya ini nggak sebatas kota Jakarta aja, Mbak, Mas.
Sedikit tentang kota Pontianak yang bisa gue bagi di sini. Selebihnya, gue saranin kalian mampir-mampir lah ke sana kapan-kapan ya. Transportasi umumnya udah nggak perlu dikhawatirkan lagi deh. Dua trend orang Pontianak dari segi pemakaian transportasinya: kalau nggak mandiri banget (a.k.a punya kendaraan bermotor sendiri); atau digital-minded banget (a.k.a gojek dan grab meraja di sana dibanding angkot dan semacamnya). Jadi kalau kalian punya teman atau kenalan baik di sana, mintalah dia untuk jadi tebengan lo selama di sana, sambil lo traktir-traktir tapi ya, jangan pure gratisan aja, kecuali dia yang minta. Tapi ya setidaknya berikan lah rasa terima kasih kita meskipun hanya secangkir es kelapa. Nah, tapi kalau tidak ada yang bisa kalian andelin untuk dijadikan tebengan, gojek atau grab udah mantep kok. Rate-nya yang pasti lebih murah daripada rate Jakarta.
Lalu, Pontianak itu memang lebih terkenal dengan wisata kulinernya. Jadi jangan ekspektasi untuk wisata alam di sana, kecuali kalian mau sedikit berjalan agak jauh beberapa jam ke utara (kalau nggak salah). Ada daerah Singkawang di sana yang memang terkenal dengan wisata pantainya. 4 jam kurang lebih dari kota Pontianak. Tapi gue merasa terpuaskan dengan hanya duduk-duduk bersama orang-orang di tepian sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Jadi worth it kok untuk berlibur ke Pontianak. Banyak-banyakin deh ketemu sama banyak orang. Banyak dengerin mereka, jangan hanya kita yang curhat melulu. InshaAllah, kalian bakal mengerti kalau nge-bom bukan solusi untuk menciptakan damai.
Next destination?? Kupang, gimana?
Friday, 4 May 2018
Renungkan
Semua bermula karena secara tiba-tiba aku diam-diam menitikan air mata, ketika berada di jalan pulang dari kantor hari ini. Dengan kondisi macet di sekitaran Ampera, di dalam taxi online (ya, tumben sekali memang aku menggunakan taxi online dari kantor ke Cibubur, karena aku bawa cukup banyak barang berharga yang tidak memungkinkan untuk aku naik bus).
Memang belakangan ini banyak hal terjadi di kantor, tentang kantor. Dan dengan aku sadari, aku mengerahkan segala daya dan upaya untuk membereskan hal tersebut. Ketika mungkin di saat bersamaan orang berkata itu bukan urusanku menanggungnya, tetapi bagiku ini bukan tentang urusanku atau bukan. Ini tentang memperjuangkan sesuatu yang layak diperjuangkan. Sama halnya seperti negara kita yang menjadi kolam para koruptor, tapi yang tidak melakukan sakit hati melihat negaranya seperti ini, marah, kesal, mengutuk, mengumpat, dll. Padahal bisa saja aku bilang, "sudahlah tidak usah terlalu dipikirkan. toh kita tidak merasakan dampaknya secara langsung dengan apa yang para koruptor itu lakukan." Tapi tidak bisa seperti itu. Negara ini beserta isi-isinya adalah tempat kita lahir, tumbuh, mencari nafkah. Ini milik kita bersama, mengapa hanya mereka yang menikmati sedang ratus ribuan orang di luar sana menderita, meskipun bukan saya yang menderita. Jika nasionalismemu masih ada, ini yang pasti akan kalian utarakan.
Namun bukan tentang itu yang ingin aku bicarakan di sini. Melainkan tentang diriku, yang membuatku menitikan air mata. Mungkin aku cukup banyak melihat puluhan orang sukses dan sedang berada di atas awan, bahkan beberapa aku mengenalnya. Tetapi dengan segala ambisi, personal branding, cerita behind the scene kesuksesan yang mereka gadang-gadangkan, tak sedikit di antara mereka yang menjadi lupa diri. Biarkan itu urusan mereka. Tetapi bukankah ini sinyal dari Tuhan untuk kita kembali refleksi diri?
Tujuan sukses bukan seberapa banyak materi yang kalian kumpulkan atau seberapa banyak aset yang kalian beli. Tujuan sukses bukan seberapa terkenal kita di dunia maya. Dunia yang kita pijaki saja bersifat fana, apalagi dunia maya. Sukses mungkin buatku adalah ketika kita selalu bisa menjadi makhluk Tuhan yang rendah hati dengan segala apa yang kita miliki saat ini. Sukses mungkin buatku adalah ketika apa yang kita lakukan menjadi inspirasi untuk kebaikan yang lebih besar. Sukses mungkin buatku adalah ketika selesai masa kontrakku di dunia ini, Tuhan menerimaku di sisinya.
Tuhan, maafkan aku yang kerap lalai dalan menjalankan tugasku sebagai ciptaan-Mu. Maafkan aku.
Memang belakangan ini banyak hal terjadi di kantor, tentang kantor. Dan dengan aku sadari, aku mengerahkan segala daya dan upaya untuk membereskan hal tersebut. Ketika mungkin di saat bersamaan orang berkata itu bukan urusanku menanggungnya, tetapi bagiku ini bukan tentang urusanku atau bukan. Ini tentang memperjuangkan sesuatu yang layak diperjuangkan. Sama halnya seperti negara kita yang menjadi kolam para koruptor, tapi yang tidak melakukan sakit hati melihat negaranya seperti ini, marah, kesal, mengutuk, mengumpat, dll. Padahal bisa saja aku bilang, "sudahlah tidak usah terlalu dipikirkan. toh kita tidak merasakan dampaknya secara langsung dengan apa yang para koruptor itu lakukan." Tapi tidak bisa seperti itu. Negara ini beserta isi-isinya adalah tempat kita lahir, tumbuh, mencari nafkah. Ini milik kita bersama, mengapa hanya mereka yang menikmati sedang ratus ribuan orang di luar sana menderita, meskipun bukan saya yang menderita. Jika nasionalismemu masih ada, ini yang pasti akan kalian utarakan.
Namun bukan tentang itu yang ingin aku bicarakan di sini. Melainkan tentang diriku, yang membuatku menitikan air mata. Mungkin aku cukup banyak melihat puluhan orang sukses dan sedang berada di atas awan, bahkan beberapa aku mengenalnya. Tetapi dengan segala ambisi, personal branding, cerita behind the scene kesuksesan yang mereka gadang-gadangkan, tak sedikit di antara mereka yang menjadi lupa diri. Biarkan itu urusan mereka. Tetapi bukankah ini sinyal dari Tuhan untuk kita kembali refleksi diri?
Tujuan sukses bukan seberapa banyak materi yang kalian kumpulkan atau seberapa banyak aset yang kalian beli. Tujuan sukses bukan seberapa terkenal kita di dunia maya. Dunia yang kita pijaki saja bersifat fana, apalagi dunia maya. Sukses mungkin buatku adalah ketika kita selalu bisa menjadi makhluk Tuhan yang rendah hati dengan segala apa yang kita miliki saat ini. Sukses mungkin buatku adalah ketika apa yang kita lakukan menjadi inspirasi untuk kebaikan yang lebih besar. Sukses mungkin buatku adalah ketika selesai masa kontrakku di dunia ini, Tuhan menerimaku di sisinya.
Tuhan, maafkan aku yang kerap lalai dalan menjalankan tugasku sebagai ciptaan-Mu. Maafkan aku.
Thursday, 3 May 2018
Attitude Is Important
Banyak orang yang mudah merobohkan apa yang telah dia bangun hanya karena sikap.
Segitu pentingnya sebuah sikap, bahkan sampai bisa menjadi kerangka dari bangunanmu.
Bahkan sikap juga menempati peran sebagai penunjuk siapa kita yang sebenarnya.
Menjadi baik tidak cukup jika kita tidak cerdas dalam mengambil sebuah keputusan. Hal ini menetapkan profesionalisme dirimu.
Menjadi cerdas atau pintar pun, tidak cukup tanpa hati yang baik. Dan hal ini menetapkan kemanusiaan dalam darimu.
Keseimbangan selalu memperingati kita bahwa kita membutuhkan manusia lainnya untuk hidup dan menjadi baik. Belajar dari orang-orang sekitar. Belajar dari dia yang memiliki kedudukan yang tinggi dalam masyarakat sampai yang jelata. Mereka punya sisi baik dan buruk yang akan selalu bisa memperingati kita. Jangan tutup mata untuk apapun itu. Itu akan sangat berarti untukmu.
Segitu pentingnya sebuah sikap, bahkan sampai bisa menjadi kerangka dari bangunanmu.
Bahkan sikap juga menempati peran sebagai penunjuk siapa kita yang sebenarnya.
Menjadi baik tidak cukup jika kita tidak cerdas dalam mengambil sebuah keputusan. Hal ini menetapkan profesionalisme dirimu.
Menjadi cerdas atau pintar pun, tidak cukup tanpa hati yang baik. Dan hal ini menetapkan kemanusiaan dalam darimu.
Keseimbangan selalu memperingati kita bahwa kita membutuhkan manusia lainnya untuk hidup dan menjadi baik. Belajar dari orang-orang sekitar. Belajar dari dia yang memiliki kedudukan yang tinggi dalam masyarakat sampai yang jelata. Mereka punya sisi baik dan buruk yang akan selalu bisa memperingati kita. Jangan tutup mata untuk apapun itu. Itu akan sangat berarti untukmu.
Subscribe to:
Posts (Atom)