Semua bermula karena secara tiba-tiba aku diam-diam menitikan air mata, ketika berada di jalan pulang dari kantor hari ini. Dengan kondisi macet di sekitaran Ampera, di dalam taxi online (ya, tumben sekali memang aku menggunakan taxi online dari kantor ke Cibubur, karena aku bawa cukup banyak barang berharga yang tidak memungkinkan untuk aku naik bus).
Memang belakangan ini banyak hal terjadi di kantor, tentang kantor. Dan dengan aku sadari, aku mengerahkan segala daya dan upaya untuk membereskan hal tersebut. Ketika mungkin di saat bersamaan orang berkata itu bukan urusanku menanggungnya, tetapi bagiku ini bukan tentang urusanku atau bukan. Ini tentang memperjuangkan sesuatu yang layak diperjuangkan. Sama halnya seperti negara kita yang menjadi kolam para koruptor, tapi yang tidak melakukan sakit hati melihat negaranya seperti ini, marah, kesal, mengutuk, mengumpat, dll. Padahal bisa saja aku bilang, "sudahlah tidak usah terlalu dipikirkan. toh kita tidak merasakan dampaknya secara langsung dengan apa yang para koruptor itu lakukan." Tapi tidak bisa seperti itu. Negara ini beserta isi-isinya adalah tempat kita lahir, tumbuh, mencari nafkah. Ini milik kita bersama, mengapa hanya mereka yang menikmati sedang ratus ribuan orang di luar sana menderita, meskipun bukan saya yang menderita. Jika nasionalismemu masih ada, ini yang pasti akan kalian utarakan.
Namun bukan tentang itu yang ingin aku bicarakan di sini. Melainkan tentang diriku, yang membuatku menitikan air mata. Mungkin aku cukup banyak melihat puluhan orang sukses dan sedang berada di atas awan, bahkan beberapa aku mengenalnya. Tetapi dengan segala ambisi, personal branding, cerita behind the scene kesuksesan yang mereka gadang-gadangkan, tak sedikit di antara mereka yang menjadi lupa diri. Biarkan itu urusan mereka. Tetapi bukankah ini sinyal dari Tuhan untuk kita kembali refleksi diri?
Tujuan sukses bukan seberapa banyak materi yang kalian kumpulkan atau seberapa banyak aset yang kalian beli. Tujuan sukses bukan seberapa terkenal kita di dunia maya. Dunia yang kita pijaki saja bersifat fana, apalagi dunia maya. Sukses mungkin buatku adalah ketika kita selalu bisa menjadi makhluk Tuhan yang rendah hati dengan segala apa yang kita miliki saat ini. Sukses mungkin buatku adalah ketika apa yang kita lakukan menjadi inspirasi untuk kebaikan yang lebih besar. Sukses mungkin buatku adalah ketika selesai masa kontrakku di dunia ini, Tuhan menerimaku di sisinya.
Tuhan, maafkan aku yang kerap lalai dalan menjalankan tugasku sebagai ciptaan-Mu. Maafkan aku.
No comments:
Post a Comment