I'm back! Setelah kira-kira mungkin ada kali ya 3 minggu lebih gue nggak nulis blog. Sebelum gue mulai tralala-trilili di sini, gue mau ngucapin minal aidin walfaidzin untuk semua teman-teman yang membaca blog gue. Mohon maaf sebesar-besarnya dari lubuk hati gue yang paling dalam jika gue ada salah. Mohon dimaafkan ya.
Anyway came up di kepala gue pengen nulis sesuatu yang essential banget menurut gue. Kenapa? Karena selain ini so personal juga penting untuk gue share, just because it is quite important for people to know how to live their own life peacefully, happily, based on what they have, what they own, right now and right here.
"Look for happiness under your own roof." - Gretchen Rubin; The Happiness Project.
Kenapa kutipan ini? Ini kutipan yang akan selalu reminder gue personally, bahwa kebahagian itu selalu ada, how big or small they are, they're always there under the same roof with me. However, people, including me sometimes and ever, searching for happiness that lays under people's roof, that actually doesn't belong to us, never. Ini bahaya menurut gue. Karena gue pernah ngalamin. Ngalamin jahatnya social media dimana terkadang mostly people do not have their own privacy, no more. Misalnya nih, ada kecenderungan untuk orang-orang sharing about their life ke publik lewat social media. Mereka lagi aktifitas apa, mereka lagi liburan kemana, mereka lagi jalan sama siapa, mereka baru punya anjing baru, mereka baru punya kucing baru, selfie dengan produk yang baru mereka beli, story-an bareng teman-teman di restoran, dan lain-lain. Gue juga gitu kok kadang. Makanya gue bisa bilang kalau gue udah ngalamin jahatnya social media, di mana yang seharusnya kita bisa lebih nikmatin kebersamaan dan quality time saat itu dengan kerabat atau keluarga misal, kita malah sibuk cari posisi atau cek-cek make up untuk bersiap-siap update. Well, terus salah gitu? No, nggak salah sama sekali untuk urusan sharing-sharing di social media. Ada manfaatnya juga kok. Tergantung gimana kita menyikapinya. Terus yang salah di mana? Jahatnya di mana?
Begini. Nggak sedikit juga orang yang ketika mereka banyak melihat akun-akun di social media, mereka jadi kinda forget their own happiness, yang sebenarnya ada di dekat mereka. Tapi karena they pay attention too much on something that actually doesn't belong for them, akhirnya munculah hanya angan-angan dan lupa untuk nikmatin yang mereka sedang miliki saat ini. Waktu, materi, dan orang. Banyak nggak sih wanita-wanita cantik nan aduhai, kulit mulis, badannya MashaAllah banget, dan dengan kesempurnaan itu ditambah mereka sering banget upload foto-foto lagi di negara ini lah, negara itu lah, kota ini lah, kota itu lah, yang pemandangannya seindah bentuk tubuh dan wajahnya juga. Gue pernah berpikir juga kok ketika gue melihat kesempurnaan itu, "ya Allah how lucky they are." dan lupa kalau gue juga sebenarnya so lucky dengan apa yang sedang gue miliki saat ini. Gue kayak jadi mupeng banget dan merasa nggak ada apa-apanya dibanding mereka. Nah ini bahayanya kalau sudah sampai punya perasaan seperti ini. Lo jadi akan lebih nekat dan nggak mikir dua kali untuk menjadi seperti orang lain, yang mana mungkin saat itu lo bilangnya, "that's my dream". Not all dreams will come true baby. Just to let you know. Mimpi yang jadi kenyataan adalah yang bisa kita dapati dengan usaha yang baik, dan do'a yang baik, yang semuanya dimulai dengan hal-hal baik. Kalau ujung-ujungnya memakasakan, wow... you are in the wrong path, hun. Be carefull.
Belajar untuk bersyukur dengan pilihan-pilihan yang ada di depan kita, and choose the best one that suits for you. Bukannya ngebuat pilihan baru yang sebenarnya nggak pernah ada di list option milik kita. It will take longer time and full of uncertainty, maybe not will last forever. Belajar juga untuk being happy first to make people happy, then in return you'll get a happiness from them as well. Ingat, kebahagiaan itu bisa menular lho, kalau kita ikhlas merasakannya. Making people happy is a kindness, and kindness is contagious. Belajar untuk menerima diri sendiri, kalau ada kekurangan, selama itu masih bisa diperbaiki, perbaikilah. Yang terpenting, do not lose who you really are, karena itu kunci dari kebahagiaan lo. Being somebody else cannot guarantee a happiness for you. But being yourself, accept it sincerely and proudly, is the source of genuine happiness. You already kind to yourself. And now it's your time to influence it to people around you.