Thursday, 29 March 2018

Solusi Ketika Lo Merindukan Seseorang | Give Away Post

"You're the missing piece I need the song inside of me I need to find you, I gotta find you." 
- Demi Lovato; Camp Rock 

Apa aja sih biasanya yang kita lakukan ketika kita lagi sedang merindukan seseorang? Entah orang tua, saudara, sahabat, pacar, atau bahkan mantan pacar. 

Gue punya cerita. Belakangan ini hidup gue tuh crowded banget. Ada aja hal yang terjadi, dari good things sampe bad things. Dinamis banget. Naik dan turun. Mungkin ada beberapa orang yang flat-flat aja, tapi nggak dengan gue kali ini. Untungnya gue masih tetap mensyukuri itu. Tapi sebagai perempuan, ada yang pernah merasakan nggak sih momen-momen di mana lo tuh butuh seseorang untuk lo bisa ajak cerita, untuk yang bisa ngedengerin lo, mau lo lagi bawel kek, mau lo lagi mellow kek, intinya lo butuh pendengar supaya sehari aja lo bisa plong. Lalu gue teringat momen-momen sekitar 15 bulan yang lalu di mana gue masih dengan si dia yang namanya tidak boleh disebut (baca: voldemort). Nggak se-antagonis itu sih dia, haha.. Dulu ketika masih pacaran, masih sama-sama, gue punya seseorang yang bisa gue jadikan tempat keluh kesah. Nggak perlu nuntut atau takut apa-apa, karena memang itu salah satu tugas kita berdua, untuk saling support satu sama lain. Tapi setelah semuanya berakhir, berakhir dengan baik-baik, apakah semudah itu untuk lupa? Mending kalo putusnya karena sebuah kesalahan yang membuat kita ilfeel dengan dia, ini benar-benar baik banget berakhirnya. Jadi ya selama gue dan dia masih sendiri, terkadang sah-sah aja perasaan rindu mampir ke hati. Terus, apa yang bisa gue lakukan dong ketika gue rindu dia? Nggak mungkin dengan leluasa sedikit-sedikit gue bilang rindu kan? Udah beda sekarang. Kita lagi di tahap sama-sama mengikhlaskan. 

Mari kita mulai dari solusi paling general sampai solusi bagi special case

1. Telepon
Ini udah paling general banget nggak sih. Ketika lo lagi LDR sama orang tua, sama sahabat, sama pacar, ya kalau rindu, tinggal telepon aja. Dengan asumsi, pasti diangkat. Pasti tersampaikan rindunya. Quality coversation akan membuat rindu itu terobati. Jadi usahakan ketika telepon-an, gunakan momen itu untuk menanyakan atau membicarakan sesuatu yang juga berarti bagi lawan bicaramu di telepon. Jangan hanya sekedar say hello dan justru malah curhat panjang lebar yang membuat si doi bosan mendengarmu. Take the time dulu untuk dengar suara lawan bicaramu. 
Terus gimana kalau telepon-nya nggak diangkat-angkat? Atau si yang kamu rindukan susah dihubungi, lagi sibuk? Atau yang memang nggak bisa lagi diteleponin (kayak gue :') ) ?? Next ke solusi ke-2. 

2. Kirim surat
Berhubung gue anaknya literasi banget, jadi surat tuh buat gue ngewakilin banget perasaan gue. Malah kadang menurut gue better than teleponan haha. Tapi gue jadikan ini sebagai option ke-2, karena gue nggak mau dibilang jadul atau lebay haha. Tapi kalau yang udah parah banget rindunya dan si doi yang gue rindukan nggak bisa gue hubungi, gue bakal pakai cara ini. Zaman now gini perempuan nggak usah gengsi sih untuk jadi yang romantis. 
Terus, kalau lo nggak suka literasi? Nggak suka yang surat-suratan kayak gini, takut dibilang lebay? Atau nggak tahu alamat atau nggak ada orang yang bisa lo titipin suratnya atau jauh banget lokasi si doi? Well, move ke solusi ke-3.

3. Samper.
Yang satu ini versi nekatnya dan butuh modal. Actually gue nggak terlalu menyarankan atau mengajarkan cara ini. Untuk rindu ke orang tua, saudara, oke lah bisa lo bela-belain samper, yang penting affordable, nggak memaksakan, dan nggak bikin susah orang lain. Tapi kalau ini posisinya adalah lo perempuan dan lo yang harus setiap saat samper "si doi", hmm... sorry to say, ibarat saham, nilai lo bisa anjlok lama kelamaan. Jadi menurut gue, sesuai porsi ajalah dan tingkatin self-awareness. Ketika lo merasa this is too much, stop it, minta dia yang samper lo seminimal-minimalnya. Kalau benar-benar nggak bisa bertatap muka begini, yaudah balik ke cara satu atau dua, atau ke cara berikut. 

4. Simpan dalam hati. Pantengin foto orang yang lo rindukan. 
Selama masih sah-sah aja lo pajang foto lo dengan doi, ya cukup simpan dalam hati ajalah rindu lo sambil pantengin foto doi, sampai benar-benar bisa tersampaikan dengan baik rindunya. Tahan aja dulu. Nggak setiap waktu lo harus sampaikan rindu, kan? Terkadang, rindu itu juga baik kok ditanam. Supaya ketika mekar, rindu itu bisa menjadi sesuatu yang indah yang bisa doi petik. Tapi tanaman juga bisa mati nggak sih dan nggak akan menarik serangga untuk mampir pada benang sarinya untuk membawa serbuk-serbuk sari agar bisa disebar lagi dan berkembang biak? Maka tanaman juga harus disiram dan dirawat, kan? Gimana caranya? 

5. Cara gue paling jitu. 
Bicara dengan Tuhan adalah hal paling mentok yang bisa gue lakukan ketika gue merindukan seseorang. Gue percaya, kalau rindu ini adalah baik, Tuhan nggak akan mungkin nggak sampaikan rindu itu. Suatu malam, gue benar-benar merindukan dia. Gue mau telepon udah nggak bisa, gue mau samper juga dia terlalu jauh, nggak terjangkau dari pandangan gue, bermil-mil jauhnya. Mau chat juga rasanya cringe banget tiba-tiba bilang rindu ke dia. You know lah, gue perempuan, ada kalanya gue harus bersikap mahal. Jadi malam itu, gue cuma bisa ngobrol sama Tuhan, menyampaikan bahwa gue merindukan dia. Do'a dan rindu yang tulus. Dan kalian mau tau apa yang terjadi setelah itu? Pagi harinya, dia yang biasanya udah nggak pernah hubungi gue lagi, kita udah hampir jarang banget in contact karena kesibukan masing-masing, tiba-tiba pagi itu dia telepon. Memang bukan untuk sesuatu yang penting dia telepon itu, tapi menurut gue itu adalah cara Tuhan menjawab do'a gue malam itu, dengan cara nge-lead doi untuk pagi itu menghubungi gue meskipun singkat. 

Coba kalau kalian punya cerita menarik atau tips & tricks solusi ketika lo merindukan seseorang, lo follow instagram gue di @renitatyas dan share di insta story tips-nya dan jangan lupa mention gue. Bakal ada give away nya lho! Khusus untuk kategori 2 pemenang cewek, bakal ada special gift buat kalian. Yang pasti buat nambah-nambah isi kantong make up lo lah. Gue akan pilih story yg paling menarik pastinya. Give away ini akan ditutup tanggal 6 April 2018 pukul 21.00 WIB. Dan pemenang akan diumumkan di blog gue juga di insta story gue. Ihiiyy.. Ikutan yuk!

Saturday, 24 March 2018

Musical Movies Always Know How To Steal My Heart | Movie Review No. 3

"Imagine if every moves with the beat of all songs synchronised with the way your life's moving. You will not get bored. It will always be fun and blessed." - Renitatyas


This time I definitely will not review a specific movie. Film musikal adalah salah satu genre film favorit-ku setelah fantasy movie yang ada di pilihan teratas. Film musikal selalu membangkitkan imajinasiku. Memvisualisasikan diriku yang tengah berada dalam memerankan karakter menginspirasi yang berada di dalam film. Hampir semua film musikal memiliki tempat tersendiri di hati dan memoriku, bahkan aku mampu untuk cepat mengingat lirik-lirik lagu dalam soundtrack-nya.

Dan kali ini, dengan singkat, gue hanya akan rekomendasiin beberapa film yang wajib banget kalian tonton. Beberapa adalah film lama, tapi who knows, maybe among all of you, still haven't watched one of those movies.

1. High School Musical 1, 2, dan 3
2. Camp Rock 1 dan 2
3. Don't Cry For me Argentina (film paling jadul sumpah. Jaman bokap dan nyokap masih pacaran. Gue tahu film ini dari mereka berdua. dan gue suka the way this movie told the history of Argentina's first female President, ke dalam bentuk opera movie).
4. La la land
5. Beauty and the beast (gabungan antara fantasy dan musical. 2 genre favorit in one piece = perfect)
6. The greatest showman (ini udah paling oke lah. Aku juga sempat pernah review tentang film ini di post-post sebelumnya).

Masih nunggu musikal-musikal film lainnya dari luar Indonesia. Untuk film musikal tanah air, nggak usah ditanya. Yang namanya penikmat film, musik, atau any kind of arts, nggak akan pilih-pilih dari mana-mananya. Apalagi dari negara sendiri, udah pasti gue akan selalu support. Ada juga beberapa film musikalnya Indonesia yang gue suka. Pastinya Petualangan Sherina, Biarkan Bintang Menari, Joshua oh Joshua, dan... masih ditunggu film-film musikal lainnya. Yang lagi berjalan projeknya karya Miles Production House itu adalah "Kulari Ke Pantai". Pasti akan ditonton.




Friday, 23 March 2018

Me Before You (2016) | Movie Review-Day 2

"a good movie is the one you can get inspired to be the next level of you as individual tomorrow." - renitatyas


It isn't the romance I got in this movie, but the understanding, the meaning of living the life to the fullest. As William Traynor (played by Sam Claflin), I actually still hadn't gotten the point by pushing  the life to the fullest as his own perspective, until I got the message of him for Louisa Clark (played by Emilia Clarke), that giving hope to someone that surely 100% has a potential to live as fully as possible, is important for him. And as a return, he got a peace in the end of his life. He didn't give the chance to Lou only, but to people who'd been there for him in the end of his life, to continue their life as they surely had that potential. 

And what about Lou's perspective? She'd fallen in love, shortly, with a men she actually knew deep down there, he wouldn't give something he knew he couldn't give to someone he loved, but otherwise, he would definitely give something he could give, that was a chance to live and get the freedom of hers. Will was a lesson for her. Forever he was. 

Hari ini gue berkesempatan lagi untuk memberikan review ke-2 gue untuk sebuah film dan gue memilih drama hollywood. Kalau membicarakan drama hollywood, gue inget banget masa-masa ketika gue masih di kos-an. Yang namanya udah penat belajar, gue akan matiin lampu kamar, selimutan, dan nonton film-film romance di laptop sepanjang malam. Jadi kalau ditanya romance movie apa yang recommended, gue suka bingung pilihnya, saking gue suka hampir semua yang pernah gue tonton. Entah gue yang terlalu receh atau apa. So, hari ini gue mengambil resiko untuk review salah satu film drama hollywood yang belum gue sempat tonton. Actually film ini baru banget keluar 2016 lalu, dan kalau nggak salah keluar di bioskop Indonesia itu tahun lalu 2017 (if I'm not mistaken). 

Gue nggak salah pilih film ini untuk gue tonton hari ini juga dan langsung pas banget untuk direview dan dijadikan recommended movie to be watched as soon as possible. Kasih tahu gue kalau kalian udah nonton film ini, dan ceritain impression kalian setelah menonton film ini. Buat gue, banyak banget pelajaran hidup yang bisa diambil dari film ini, bukan hanya romance-nya aja. Buat gue, I could feel what they felt, Will and Lou felt. You fell in love with someone you knew you couldn't be with. It is tough, yet that is a true love. You give chance to someone you love to live the life as fully as possible. Gue baru aja mengalami itu dan itu relate sekali dengan apa sedang gue perjuangkan untuk gue abadikan menjadi sebuah cerita di novel yang bisa dinikmati oleh para pembacanya. 



Thursday, 22 March 2018

Biarkan Bintang Menari (2003) | First Teenlit Musical Movie in Indonesia


Grey: "Aku udah cari bintang baru pakai teropongnya."
Neyna: "Dapet?"
Grey: "Nggak. Karena nggak semua bintang mesti ada di langit. Yang di sini sinarnya lebih terang dari yang lain."
Neyna: "Soal Pasha.."
Grey: "Ssh... nggak usah ngomongin dia lagi. Halaman terakhir hanya diisi dialog antara pangeran dan puterinya. Penyihir jahatnya, udah kalah di dua halaman sebelumnya."

Last scene of Biarkan Bintang Menari (2003)


Pertemuan kembali dua remaja yang sudah saling mengenal dekat dan menjadi sepasang sahabat sejak kecil, yaitu Grey (diperankan oleh Ariyo Wahab) dan Neyna (diperankan oleh Ladya Cheryl), setelah berpisah selama bertahun-tahun. Grey kecil yang meninggalkan Neyna kecil di desa Cimelati yang terletak di kaki gunung Patuha untuk melanjutkan hidupnya bersama keluarganya di Jakarta, ternyata tak lagi memberi surat kabar kepada Neyna dan menghilang. Hingga setelah kelulusan SMU, Neyna pindah ke Jakarta dan kuliah di Universitas Indonesia. Di hari pertama ia masuk kuliah dan mengikuti perpeloncoan, takdir mempertemukan kembali dua sahabat ini. Namun Grey telah berubah menjadi laki-laki yang dingin dan temperamental, dikarenakan latar belakang permasalahan kedua orang tuanya yang mengakibatkan Grey harus kehilangan Ibunya dan Ayahnya dipenjara. 

Neyna hanya perempuan desa yang polos. Yang selalu memegang teguh pada mimpinya, yang mana salah satunya adalah, pangeran kecilnya akan selalu tetap menjadi pangerannya. Neyna tak pernah putus asa untuk mendapatkan keceriaan dan senyum Grey kembali. Meskipun Neyna dan Grey harus melewati berbagai tantangan yang menguji kesetiaan persahabatan dan cinta mereka berdua. 

Nah, cerita dari film ini sederhana banget. Tapi dibalut dengan konsep musikal yang pada era 2003an itu adalah suatu konsep yang unik dan belum banyak diproduksi. Gue pribadi suka dengan film ini karena soundtrack-nya yang ceria dan lirik mudah dimengerti. Selain itu, penonton juga disuguhkan dengan koreografi-koreografinya yang fun dan romantis banget. 

Film ini memang muncul di layar-layar bioskop tahun 2003, tapi gue pribadi baru nonton film ini di tahun 2006 (kalau tidak salah). Pokoknya gue tahu film ini, singkat ceritanya, gue yang hobi banget nonton film, sering banget waktu SD, pulang sekolah pasti mampir ke toko rental kaset. Tahulah ya kalian yang satu generasi sama gue. Dulu toko-toko rental seperti itu menjamur. Sekarang rasanya dalam hitungan nggak sampai 1 dekade aja, sudah hilang toko-toko seperti itu. Orang sudah lebih mudah mencari bajakannya di beberapa situs di dunia maya. Atau sekarang sudah ada apps-apps khusus untuk nonton film layar lebar. 

Tidak beruntungnya gue karena film yang satu ini, gue nggak bisa nikmatin di apps yang menurut gue jauh lebih baik nonton dari situ meskipun berbayar, daripada gue nonton gratis di situs dunia maya. Anyone yang tahu dimana gue bisa punya DVD dari film ini, I appreciate it a lot siapapun yang mau memberikan info. Selain film musikal Petualangan Sherina, Biarkan Bintang Menari adalah film musikal kedua yang aku rekomendasikan untuk ditonton. 

Tuesday, 20 March 2018

Hal Gue Paling Sesali Dalam Hidup | Sudden Thought No. 1

Guilt:

a feeling of responsibility or remorse for some offense, crime, wrong, etc., whether real or imagined


Gue pernah sekali bertanya sama diri gue sendiri. Perlu nggak sih gue merasa menyesal banget sama apa yang udah gue lakuin dan itu menyebabkan kerusakan atau bahkan kegagalan? Mungkin iya, pertanyaan selanjutnya akan seperti ini, "menyesal yang seperti apa?" Berlarut-larutkah dan jadi stuck, jadi stress, mengharapkan semuanya bisa kembali dan segala sesuatunya memiliki kesempatan kedua yang sama? Oke, sebelum gue mengemukakan opini gue, gue mulai dari apa aja hal besar dalam hidup gue yang gue sesali.

1. Decision untuk sekolah di luar negeri.
Jaman dulu, waktu gue masih sekolah, dari gue SD sampai SMA, orientasi gue selalu konsisten. Gue mau sekolah setinggi-tingginya meskipun saat itu gue nggak punya alasan kenapa. Tapi seinget gue, simple aja kalau orang nanya kenapa. Karena gue suka kalau gue "tahu". Maksudnya apa sih? Ya tahu... tahu tentang ilmu pengetahuan, tahu tentang caranya beradaptasi, tahu gimana rasanya jadi orang yang independent. Dan waktu itu yang gue tahu hanya, kalau mau tahu, ya harus pintar, belajar. Dan kalau mau belajar, pintar, ya harus sekolah. Dan keputusan untuk melanjutkan kuliah di luar negeri adalah karena gue mau belajar untuk kembali ke Indonesia. Lalu apa yang gue sesali? Gue menyesal karena gue ternyata nggak cukup pintar untuk dapat beasiswa-beasiswa yang benar-benar orang tua gue nggak perlu ngeluarin cost besar untuk melepas gue ke luar negeri. Gue sempat test untuk ke Jerman. Keterima, tapi gue masih harus punya deposit yang terbilang gede untuk ukuran kemampuan ekonomi keluarga gue. Gue masih punya adik yang sekolah. Jadi gue harus melepas mimpi gue yang satu ini mulai hari itu, hari di mana gue akhirnya masuk ke perguruan tinggi swasta hasil beasiswa.

2. Lulus kuliah nggak tepat waktu.
Ini paling ngeri buat gue, tapi gue nggak menyadari dengan cepat. Gue nggak pernah aneh-aneh bergaul selama gue kuliah. Gue hanya anak yang kaget di dunia baru. Gue yang sebelumnya introvert parah, pemalu, gue ketemu lingkungan yang bikin gue nggak bisa lagi kayak gitu kalau gue mau grow up. Gue masuk organisasi yang mana gue merasa gue jauh lebih dapet ilmu di sana dibanding di kelas. Gue ambil jurusan akuntansi anw, nggak tahu kenapa, arahan nyokap. Tapi bukan salah beliau gue begini. Gue yang saat itu nggak memiliki self-awareness.
Yep, gue nggak aneh-aneh. Absennya gue kuliah, mencutikan diri, karena gue fokus di organisasi. Gue kesana-kemari, ngerjain ini itu yang emang gue suka dan bermanfaat. Tenang, meskipun gue telat, gue ternyata masih dikasih kesempatan sama Tuhan untuk menyelesaikan kuliah gue. Setahun yang lalu gue memutuskan untuk selesai menjabat di organisasi tersebut, dan kembali "pulang" ke rumah. Tapi tetap, nggak tepat waktu menyelesaikan kuliah, adalah penyesalan terbesar gue.

3. Gue menyia-nyiakan waktu gue dengan banyak mikir hal yang nggak penting dan nggak essential.
"kalo gue nulis ini, berapa ya target readers gue?" / "kalo gue nulis begini, orang bakal mikir gue apa ya? ah apus ah..." / "gue mau posting apa ya hari ini di socmed gue?" / "kalo gue nulis novel, biar novel gue laku, gue harus gimana ya?" dan masih banyak lagiiii...
Baru sadar gitu gue, astagfirullah... pertanyaan-pertanyaan macam apa itu? gue merasa bodoh. ternyata gue stuck, gue gak bergerak, karena gue nggak dari hati ngelakuin apapun saat itu. Ternyata tanpa gue sadari gue mengharapkan sesuatu, entah apa itu. Dan momen-momen itu adalah hal paling gue sesali juga dalam hidup. Good side-nya, gue bersyukur Tuhan masih mau untuk menyadarkan gue.

4. Gue menyia-nyiakan waktu gue yang mungkin terbilang singkat tanpa gue sadari untuk membahagiakan orang tua gue. Gue baru sadar, mau ngejar apapun di dunia, kalau ujungnya hanya untuk kebahagiaan diri sendiri, tanpa kebahagiaan itu bisa dinikmati oleh orang lain, terutama orang tua kita, yakin, kita nggak akan pernah puas, nggak akan 100% ngerasain bahagia itu. Orang tua kita pada akhirnya hanya akan membutuhkan waktu kebersamaannya dengan kita, bukan hanya materi yang berlimpah, yang terpenting buat mereka adalah, kita masih punya waktu untuk mereka.

4 hal besar yang paling gue sesali dalam hidup gue. Lalu apa sekarang? Apa tindakan gue untuk menghadapi atau memperlakukan penyesalan-penyesalan gue itu? Oke, kali ini gue ngasih waktu ke diri gue untuk ibadah sebanyak-banyaknya, karena hanya dengan ibadah tulus, Tuhan mungkin akan merangkul kita lebih erat. Sampai akhirnya gue mendapat jawabannya.

Gue terlalu concern banget sama yang namanya planning. Gue terlalu fokus sama target, tanpa gue memikirkan bagaimana caranya gue ngasih yang terbaik dalam proses. Gue lupa sama proses. Makanya gue jadi nggak nikmatin saat itu apa yang sedang gue lakukan. Punya target boleh, tapi jangan setiap detik kita mikirin targetnya doang, apalagi sampai udah berangan-angan. Sekali ngasih momen ke diri kita untuk mikirin target, setelah itu udah sisa waktu hari lo, lo jalanin dengan apa adanya aja, do the best untuk apa yang detik itu lo lagi lakuin. Nggak usah mikir besok akan seperti apa. Kalau gue sih gitu, akhirnya gue sadar, begitu cara paling tepat untuk treat diri gue sendiri.

Yang pasti, feeling guilty harus bisa bikin lo bangkit, bukannya justru malah stuck nggak bergerak.


Monday, 19 March 2018

Titik Nol, Kita dan Ciliwung, Tinju Tinja Squad | Part 1

"Be the change you wish to see in the world." - Mahatma Gandhi

Kutipan yang terdiri hanya dengan satu kalimat, sepuluh kata. Tak ada satu menit untuk menulisnya. Tapi aku tahu, betapa sulit untuk mengimplementasikannya. Daripada berwacana ria dan hanya mengagumi kutipan ayah Mahatma Gandhi tersebut (karena kalau tidak dikagumi, darimana kita bisa mendapat motivasi untuk bisa menjadi lebih baik, tidak hanya untuk diri kita tapi juga untuk sekitar), maka aku mencari lalu mendapatkan kutipan kedua. 

"Children learn as they play. Most importantly, in play children learn how to learn." - O Fred Donaldson

Masih ada yang ingat permainan Play Station "Harvest Moon" tahun 2000-an? Permainan kesukaanku waktu jaman SD kelas 4 atau 5, yang aku mainkan tiap hari Jum'at sepulang sekolah atau Sabtu siang hari (karena hanya di hari itu aku diperbolehkan bermain Play Station oleh orang tuaku). 

Hidup di dunia ini buatku sama seperti sedang bermain Harvest Moon. Aku ingin karakterku dalam permainan itu bisa menjadi "kaya". "Kaya" dalam arti memiliki lingkungan yang bisa membuatku tumbuh, memiliki ilmu baru yang bermanfaat setiap harinya, menjadi sumber kebahagiaan untuk orang lain. 

Dari sini lalu aku mencari apa yang aku suka, seharusnya adalah sesuatu yang bisa menjadi media untukku menciptakan kebahagiaan, tidak hanya untuk diriku sendiri, hidup ini terlalu sepi jika aku lakukan sendiri. 

Location: Sekolah Sungai Ciliwung - Kapung Sawah, Jakarta Selatan

18 Maret 2018. Untuk kesekian kalinya aku melakukan aktifitas sosial dengan masyarakat. Berkegiatan seperti ini sudah aku lakukan sejak 4 tahun belakangan ini, pastinya sejak aku mengenal dan menjadi bagian dari suatu organisasi kepemudaan yang telah membesarkanku, AIESEC. Bedanya adalah ini pertama kalinya aku ke sungai Ciliwung yang ternyata baru sadar kalau Ciliwung itu panjang banget. Aku tahunya Ciliwung itu di daerah Jakarta aja, tapi ternyata memanjang hingga ke Bogor. Bedanya yang kedua adalah, ini pertama kalinya aku berkunjung ke bantaran sungai yang katanya hampir sudah tidak ada harapan bisa menjadi bantaran yang rapi. Tapi ketika aku berkunjung ke Kampung Sawah ini yang letaknya dekat dengan bantaran sungai, hmm... aku terkesima bantaran bisa menjadi sebuah destinasi alam yang baik tanpa kita harus merusaknya. Akan aku paparkan nanti. Bedanya yang ketiga adalah, untuk melakukan aktifitas ini, meskipun program ini adalah program bawaan dari UNICEF Indonesia, tetapi aku menjalankannya hampir sendiri dan hanya mengandalkan koneksi dan ajakan-ajakan dari mulut ke mulut untuk membuat tim. 

Aku akan membagi cerita kegiatan saya dengan teman-teman Ciliwung Kampung Sawah dalam 3 babak. Babak pertama adalah yang sedang aku tulis saat ini, dan sebagai pembuka, tentu saja aku ingin menceritakan proses hingga hari kemarin tiba, 18 Maret 2018. 

Timku terdiri dari kurang lebih 17 orang yang ada di Whatsapp group kami. 4 di antara mereka adalah teman-teman SMA-ku. Selebihnya aku baru pertama kali ketemu mereka kemarin. Dalam persiapan selama kurang lebih 3 minggu, kami mengandalkan komunikasi by Whatsapp. Tak banyak yang bisa kami bahas di Whatsapp, begitu sulit untuk menentukan kesamaan jadwal untuk bertemu mempersipakan dan mendiskusikan kegiatan ini. Tapi aku maklum. Sampai akhirnya untuk pertama kalinya kami bertemu di hari H kegiatan projek, dan alhamdulillah kami bisa saling mengakrabkan diri satu sama lain. Perjalanan projek masih berlanjut, semoga bisa nambah anggota tim baru dan ada cowoknya mungkin :') biar tambah diverse. 

Selain mereka, aku mengundang serta 2 murid lesku, Haffiz Azzmi (red shirt) dan Fikri Pradana (white shirt), yang aku ajari setiap dua minggu sekali ke rumahnya masing-masing. 2 murid lesku yang sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Bahkan kedua orang tuanya sudah seperti keluargaku, om dan tanteku. Aku paling sensitif jika mendapat energi positif dari lingkungan. Sebisa mungkin akan aku jaga, akan aku jadikan dari bagian hari-hariku. Mereka terlalu berarti untukku. Nggak kebayang jika nanti dua anak ini, yang sekarang mereka kelas 4 SD, akan segera tumbuh menjadi remaja dalam waktu beberapa tahun lagi. Semoga koneksi seperti ini tetap terjaga. 

Dan kami semua bertemu dengan masyarakat, ada anak-anak muda bahkan bapak-bapak, yang semangatnya luar biasa banget untuk lingkungan mereka sendiri. Saya kagum, saya terkesima, saya mengidolakan semangat mereka. Mereka beruntung berada di lingkungan yang masih memegang teguh arti bergotong royong, yang saya pikir, mungkin di daerah lain di Jakarta, banyak daerah yang sudah kehilangan kebersamaan dari warganya, gotong royong, atau bahkan toleransi. 

Sampai sini babak pertama cerita kegiatan sosialku di Ciliwung Kampung Sawah. Besok-besok akan aku ceritakan lagi. Bagi kalian yang membaca blog-ku ini, dan kalian ingin bergabung untuk sesekali berkunjung ke Ciliwung Kampung Sawah ini, kalian boleh hubungi aku via DM instagram dengan follow instagram-ku terlebih dahulu di @renitatyas . Di Ciliwung Kampung Sawah ini kalian akan menyaksikan yang namanya saung-saung betawi di bantaran sungai, jogging track, sanggar-sanggar tari dan kebahasaan asing, komunitas-komunitas pecinta lingkungan, wisata arung jeram, dan lain-lain. Penasaran nggak sih? Aku aja yang pertama kali datang ke sana, nagih pengen berkunjung kesana lagi, walau hanya sekedar ngobrol-ngobrol dengan warga. 

Tuesday, 13 March 2018

Building Connection With Society | sharing experience No. 1

"I don't have enough money to give something big for my surroundings, but I have time, I have capacity in terms of knowledge, effort, to be given for the sake of positive changing, so I don't wait to give them out" - Renita

2012, selepas masa sekolah gue dan beralih ke dunia perguruan tinggi, pastinya benar-benar merubah gue hampir 180 derajat, dari yang kind of introvert, pemalu, tertutup, cuek, menjadi concern dan sensitive banget sama lingkungan sekitar. There is a good side, though, dari perubahan-perubahan mindset dan perilaku gue di masa perguruan tinggi sejak 5 tahun silam. Apa aja yang udah gue lakukan dalam 5 tahun terakhir ini?

Ditanya apa aja yang UDAH gue lakukan dalam 5 tahun belakangan ini, gue bingung gimana jawabnya. Karena definisi "udah" di sini itu, udah apa? udah melakukan sesuatu atau udah menghasilkan sesuatu. Mungkin gue lebih ingin menjawab pertanyaan apa aja yang udah gue lakukan, soal hasil biar kalian nilai sendiri aja once gue ada chance untuk membeberkan secara detail projek-projek sosial yang pernah gue lakukan.

1. Gue tergabung dalam organisasi kepemimpinan dan kepemudaan, yaitu AIESEC. Awalnya sebatas volunteer selama kurang lebih 3,5 tahun, lalu sisanya hingga tahun 2016 akhir, menjadi pengurus full time di tim nasional AIESEC Indonesia. Selama menjadi anggota AIESEC, gue banyak dapat kesempatan untuk ngikutin berbagai macam kegiatan sosial dan self development melalui conference-conference-nya. Nggak hanya itu, since AIESEC juga memiliki produk untuk sebagai sarana self development para agent of change-nya AIESEC, dimana AIESEC menawarkan program pertukaran pelajar bekerjasama dengan AIESEC-AIESEC di (kalo nggak salah ingat) 120an negara, membuat gue hampir sehari-harinya ketemu dan bertukar pikiran serta berkomunikasi dengan pemuda-pemudi dari berbagai negara. Bisa kebayang, hidup gue yang sebelum ini rasanya flat-flat aja, hampir jarang nemuin problematika karena nggak terlalu sering banyak orang, ini as sudden, gue dipicu untuk mikir.

2. Di momen-momen terakhir gue akan meninggalkan AIESEC, gue mendapat kesempatan yang cukup luar biasa untuk menjalankan projek di Maluku, tepatnya di Pulau Seram. Luar biasa pengalam gue di sini, meskipun sayangnya gue nggak bisa berbangga diri untuk projek yang tidak sempat gue selesaikan dengan baik.

3. Selepas AIESEC, sebulan dua bulan gue kembali menjalankan aktifitas-aktifitas gue yang supposed to be felt normal, tapi asing buat gue saat itu, karena biasa sibuk dan ketemu banyak orang, tiba-tiba sepi. Sampai akhirnya gue bertemu kembali dengan sahabat lama gue dari SMP yang mana kedua orang tuanya memiliki CSR pengabdian masyarakat dengan membuat sebuah sekolah informal setiap hari Minggunya untuk warga sekitar. Gue tergabunglah di sana dan hampir setiap Minggu gue selalu meluangkan waktu untuk mengajar dan bermain dengan anak-anak.

Kegiatan-kegiatan gue pada akhirnya menciptakan benang merah yang terangkai dan menciptakan awareness di dalam diri gue yang seharusnya gue sadari betul-betul, bahwa gue sangat concern sekali dengan anak-anak Indonesia dan pendidikan. Dan untuk menjadi inspirasi gue harus memulai itu semua dari diri gue sendiri. Menyadari ini semua betul-betul, gue mulai mencoba untuk connecting myself with the world, the environment. Teori yang saat ini sedang gue pakai untuk protecting myself agar tidak keluar dari jalur, tidak berlebihan, dan tetap humble dan menjalankan kesibukan-kesibukan gue.

Dan projek yang saat ini on going gue sedang lakukan dengan beberapa teman-teman gue adalah, projek dari UNICEF Indonesia yang khusus membahas tentang issue BABS (Buang Air Besar Sembarangan). Akan seperti apa projeknya? Bagaimana keseruannya? I will update it again very soon!

Thursday, 8 March 2018

Connection Between You and Universe | Teori Kehidupan No.2

"When our life is disconnected with the universe, horizontally-vertically, that is the moment where you get lost" - Renita

Beberapa hari lalu gue mem-posting blog tentang Cable of Life, yang mana koneksi antara gue dengan alam semesta sedang menjadi fokus gue saat ini. Kenapa? Karena muncul pertanyaan di benak gue seketika, kenapa terkadang gue bisa melakukan kesalahan, kenapa terkadang gue bisa melakukannya berulang kali, kenapa gue pernah merasa tidak cukup?  Dan lain-lain. Padahal gue tahu, gue bukan orang yang ngelakuin hal-hal aneh. Sampai akhirnya gue sadar, gue tidak pernah benar-benar terkoneksi dengan alam. Karena kalau gue memiliki koneksi yang benar dan seimbang antara koneksi horizontal dan koneksi vertikal, gue akan menemukan formula, tidak hanya bagaimana cara mendapatkan kebahagiaan dan melakukan kebaikan, tetapi bagaimana cara me-maintain itu semua. Sadar atau tidak sadar, ini yang belum semua orang memiliki kesadaran itu. 

Lalu bagaimana caranya me-mantain atau menjaga koneksi itu? Gue sendiri belum menemukan formula saklek-nya. Tapi yang jelas sekecil apapun hal yang bisa bikin gue selalu ingat dengan eternal happiness and kindness, akan gue lakukan. Beberapa hal yang gue lakukan belakangan ini: 

1. Ibadah. Yang pasti ini adalah untuk mengunci dan menjaga koneksi kita dengan Sang Pencipta. Apapun agama kalian, gue yakin, ibadah itu adalah tiang agama. Seperti dalam Islam, yang mana semua orang Islam gue yakin pasti sudah mendengar istilah ini sejak dia, mungkin, masuk TPA atau madrasah di sekolah dasar dulu. Berat? Untuk yang nggak sadar kebutuhannya, pasti berat. Tapi setelah gue benar-benar menemukan esensi ibadah, nggak hanya menjalankannya karena kewajiban semata, pada akhirnya gue menjalankannya lebih seperti kebutuhan gue sehari-hari, yang mana gue tidak luput dari kesalahan, maka gue butuh ibadah itu untuk meringankan dosa-dosa gue setidaknya. Allahu alam, kalau Allah menerima permohonan ampun gue untuk menghapus dosa-dosa gue yang mungkin tidak sengaja gue lakukan hari itu, Alhamdulillah (segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam). Lalu selanjutnya, gue bersyukur karena dalam Islam kami diwajibkan melakukan ibadah 5x dalam sehari, yang mana, gue sadar sekarang, itu adalah bentuk reward dari Allah supaya kita tidak terlalu lelah bekerja mencari harta dunia. Dikasih waktu istirahat, napas, dengan melakukan Sholat, bonusnya harta akhirat. 

2. Being in the middle if it is related into horizontal connection. Apa yang dimaksud dengan "being int he middle"? Maksudnya adalah contoh, terkadang isolating diri dari lingkungan yang tidak mendukung perubahan baik pada diri kita, it's okay, atau memerangi orang-orang yang memerangi kita, tetapi bukan berarti kita tidak perlu merasa terpanggil untuk transmitting our positive energy to our negative environment with positive attitude. Selalu ada porsinya masing-masing, dan bahkan teori ini sudah diatur pula dalam Islam melalui Al-Qur'an: "dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (Al-Baqarah (2): 190)

Jadi ini adalah dua hal besar dalam hidup gue sebagai pegangan atau teori gue untuk mencari eternal happiness and kindness. 

Dikasih kesempatan dan amanah besar oleh Tuhan untuk gue, yang pertama mengemban responsibility besar dalam perusahaan startup, mendapatkan kepercayaan untuk tetap mengajar adik-adik didikku sepulang kerja, meskipun lelah melanda sekujur badan, tetapi tak pernah ada celah untukku tidak merasa bahagia. Dipercaya dan dekat dengan orang-orang yang luar biasa menginspirasi, mendidik, mengingatkan hal-hal baik, menjadi tambahan anugerah yang tak pantas jika gue tidak menjalankan apa yang diinginkan oleh Tuhan gue. 

Dan ini sebuah bukti bahwa gue, meskipun seorang perempuan, gue punya kemampuan untuk breaking the limit sesuai porsi gue sebagai perempuan. Gue memiliki hak untuk tumbuh, untuk mencari ilmu, untuk mencari kebahagiaan dengan cara yang benar dan tidak merugikan orang lain. Karena perempuan sejatinya mereka memiliki kekuatannya masing-masing dan sesuai porsinya, maka perempuan juga memiliki hak sama seperti laki-laki memiliki haknya. 

Di hari Women International Day ini, gue mendukung semua para perempuan di belahan dunia manapun, I fully support all women on this whole earth, to stand up together, hand-in-hand, raising our rights to study formally-informally, to get knowledge as man do, to innovate even invent something as man also do, to earn as man also can earn, to be a leader in the society, etc without decreasing our responsibility as women, which we exist to balance men

Dan di hari spesial untuk para wanita di belahan bumi ini, pagi ini gue mendapatkan sebuah bentuk hadiah, motivasi, that really means a lot for me, meskipun gue mikir berulang kali, apakah gue pantas mendapatkan itu. But deeply thanks to my dearest friend, Joel Jonathan Samallo, who'd given me a credit which I never knew what I have done for him and his surrounding. But here I take it as a motivation, to not stopping what I don't need to stop and keep asking why I do what I do. 

Happy Women International Day. 


Sunday, 4 March 2018

Cables of Life | Teori Kehidupan No.1

"Being kind to yourself, to strangers, to those you love, to the world - everyday, at every opportunity - will make you happier and more connected to everything and everyone than you have ever been" 
The Little Book of Kindness by Bernadette Russel


Salah satu hal dalam hidup ini yang aku sangat setuju adalah tentang kindness (kebaikan). Bahwa it is indeed true, kindness is contagious. Aku bukanlah manusia super, manusia sempurna, manusia serba bisa, manusia yang sangat amat dekat dengan Tuhan. Meskipun untuk yang terakhir aku sangat ingin berada di titik itu. Dekat dengan Tuhan dengan dekat dengan ciptaan-Nya. Dekat dalam hal koneksi kehidupan.

Ketika aku sadar bahwa aku hanya manusia, ciptaan Tuhan, dikirim ke bumi, bukan berarti tanpa misi. Misi untuk perjalanan pribadi menuju yang abadi, maupun misi untuk sesama cipataan Tuhan yang dikirim ke bumi. Maka kesadaran itulah yang akhirnya menciptakan sebuah kabel yang terkoneksi antara aku dengan lingkungan. Dan melalui kabel itulah, timbal balik terjadi. Aku memberikan manfaat, aku mendapat manfaat. Alam memberiku manfaat, alam mendapat manfaat dariku. 

Teori kindness ini membawaku pada level bersyukur. Dan menurutku jika sudah sampai di tahap ini, inilah sesuatu yang worth it itu untuk aku maintain. Bersyukur membuatku jauh lebih positif menghadapi segala sesuatu, jauh lebih bisa merasakan detakan jantung dan jarum jam.

Kindness dapat dijaga atau well-maintained dengan membangun self-awareness (kesadaran diri) dengan selalu mencari energi positif. Energi positif yang bisa membuat kita seimbang antara koneksi horizontal dan koneksi vertikal. Dan itulah the biggest positive energy

Salah satu energi positif yang kudapatkan belakangan ini adalah koneksi yang terbentuk antara aku dengan keluarga salah satu adik didikku (karena aku yang adalah seorang part-time private tutor di luar pekerjaanku sebagai salah satu karyawan swasta di sebuah startup media yang sedang berkembang). Kelebihanku sebagai seorang introvert adalah aku bisa membedakan mana orang-orang yang tepat yang bisa melihat sisi extrovert-ku. Semua mengalir begitu saja ketika aku bertemu dan mulai berinteraksi dengan kedua orang tua dari adik didikku ini, sebut saja namanya Azzmi, anak cerdas, unik, apa adanya, kreatif, berani, dan kritis. Lambat laun, koneksi semakin kuat, ditandai dengan kepercayaan yang mulai terbentuk antara aku dan Azzmi, yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri, keluarga lebih tepatnya. Kepercayaan seperti apa? Ketika Azzmi yang tergolong aktif dan senang bercerita (terkadang terlalu sering keluar dari konteks pelajaran yang sedang dibahas), percaya jika aku akan membuatnya menjadi lebih paham dengan pelajaran yang dia tidak mengerti dengan cara membuat kesepakatan untuk berdisiplin dan membangun respect antara kita berdua ketika aku sedang mengajar, but at the same time, he still has right to tell stories, to show his creations, and to play with me, karena buatku, ketika anak mau berlama-lama bermain denganku, artinya aku sudah membangung koneksi dengannya. Itulah koneksi antara aku dengan Azzmi. 

Lalu koneksi menular kepada koneksi antara aku dengan kedua orang tua Azzmi. Beliau-beliau adalah orang tua millenials yang menginspirasi buatku dalam cara mendidik anak, berkomunikasi dengan anak, dan membangun chemistry antara orang tua dan anak. Dan kedua orang tua Azzmi benar-benar mengimplementasikan, mempraktikkan, dan menunjukkannya di hadapanku. Aku masih 23 tahun, dengan segala pengalaman emosional yang sudah pernah ku alami, mulai dari jadi anak yang penurut, pendiam, dan mendengarkan kata orang tua, menjadi kebanggaan mereka, hingga menjadi anak yang bukan pendiam tapi lebih banyak diam a.k.a menyembunyikan, berontak dengan cara tidak bisa menunjukkan the best version of me di hadapan mereka, sampai akhirnya sekarang aku kembali berdamai, bukan dengan kedua orang tuaku karena kami tidak sedang perang, tetapi lebih kepada diriku sendiri, terutama ego-ku. Kembali lagi kuteruskan, meskipun aku masih 23 tahun, umur yang menurutku sedang diamanahkan oleh Tuhan agar aku belajar sebanyak-banyaknya tentang kehidupan, sebelum aku berganti kehidupan lainnya dengan sosok-sosok baru dalam hidupku nantinya (a.k.a teman hidup). Dan kedua orang tua Azzmi sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Pemikiran mereka yang logic dan modern tetapi tetap pada syariat, pada akhirnya mampu membuatku memandang mereka seperti om, tante, atau bahkan terkadang seperti kakak yang mana aku bisa bercerita tentang hal paling pribadi dalam hidupku, yang mungkin tak pernah kuceritakan kepada siapapun. Karena mereka adalah salah satu energi positif yang mengirimkan keseimbangan (balance) antara aku dengan lingkungan dan aku dengan Tuhan. 

Sekali lagi, Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan selalu tahu apa yang dibutuhkan umat-Nya. Hanya saja terkadang, saking umat-Nya lupa akan-Nya, kita tak sadar bahwa Tuhan sedang berbicara dan memberi kita hadiah.