Guilt:
a feeling of responsibility or remorse for some offense, crime, wrong, etc., whether real or imagined
Gue pernah sekali bertanya sama diri gue sendiri. Perlu nggak sih gue merasa menyesal banget sama apa yang udah gue lakuin dan itu menyebabkan kerusakan atau bahkan kegagalan? Mungkin iya, pertanyaan selanjutnya akan seperti ini, "menyesal yang seperti apa?" Berlarut-larutkah dan jadi stuck, jadi stress, mengharapkan semuanya bisa kembali dan segala sesuatunya memiliki kesempatan kedua yang sama? Oke, sebelum gue mengemukakan opini gue, gue mulai dari apa aja hal besar dalam hidup gue yang gue sesali.
1. Decision untuk sekolah di luar negeri.
Jaman dulu, waktu gue masih sekolah, dari gue SD sampai SMA, orientasi gue selalu konsisten. Gue mau sekolah setinggi-tingginya meskipun saat itu gue nggak punya alasan kenapa. Tapi seinget gue, simple aja kalau orang nanya kenapa. Karena gue suka kalau gue "tahu". Maksudnya apa sih? Ya tahu... tahu tentang ilmu pengetahuan, tahu tentang caranya beradaptasi, tahu gimana rasanya jadi orang yang independent. Dan waktu itu yang gue tahu hanya, kalau mau tahu, ya harus pintar, belajar. Dan kalau mau belajar, pintar, ya harus sekolah. Dan keputusan untuk melanjutkan kuliah di luar negeri adalah karena gue mau belajar untuk kembali ke Indonesia. Lalu apa yang gue sesali? Gue menyesal karena gue ternyata nggak cukup pintar untuk dapat beasiswa-beasiswa yang benar-benar orang tua gue nggak perlu ngeluarin cost besar untuk melepas gue ke luar negeri. Gue sempat test untuk ke Jerman. Keterima, tapi gue masih harus punya deposit yang terbilang gede untuk ukuran kemampuan ekonomi keluarga gue. Gue masih punya adik yang sekolah. Jadi gue harus melepas mimpi gue yang satu ini mulai hari itu, hari di mana gue akhirnya masuk ke perguruan tinggi swasta hasil beasiswa.
2. Lulus kuliah nggak tepat waktu.
Ini paling ngeri buat gue, tapi gue nggak menyadari dengan cepat. Gue nggak pernah aneh-aneh bergaul selama gue kuliah. Gue hanya anak yang kaget di dunia baru. Gue yang sebelumnya introvert parah, pemalu, gue ketemu lingkungan yang bikin gue nggak bisa lagi kayak gitu kalau gue mau grow up. Gue masuk organisasi yang mana gue merasa gue jauh lebih dapet ilmu di sana dibanding di kelas. Gue ambil jurusan akuntansi anw, nggak tahu kenapa, arahan nyokap. Tapi bukan salah beliau gue begini. Gue yang saat itu nggak memiliki self-awareness.
Yep, gue nggak aneh-aneh. Absennya gue kuliah, mencutikan diri, karena gue fokus di organisasi. Gue kesana-kemari, ngerjain ini itu yang emang gue suka dan bermanfaat. Tenang, meskipun gue telat, gue ternyata masih dikasih kesempatan sama Tuhan untuk menyelesaikan kuliah gue. Setahun yang lalu gue memutuskan untuk selesai menjabat di organisasi tersebut, dan kembali "pulang" ke rumah. Tapi tetap, nggak tepat waktu menyelesaikan kuliah, adalah penyesalan terbesar gue.
3. Gue menyia-nyiakan waktu gue dengan banyak mikir hal yang nggak penting dan nggak essential.
"kalo gue nulis ini, berapa ya target readers gue?" / "kalo gue nulis begini, orang bakal mikir gue apa ya? ah apus ah..." / "gue mau posting apa ya hari ini di socmed gue?" / "kalo gue nulis novel, biar novel gue laku, gue harus gimana ya?" dan masih banyak lagiiii...
Baru sadar gitu gue, astagfirullah... pertanyaan-pertanyaan macam apa itu? gue merasa bodoh. ternyata gue stuck, gue gak bergerak, karena gue nggak dari hati ngelakuin apapun saat itu. Ternyata tanpa gue sadari gue mengharapkan sesuatu, entah apa itu. Dan momen-momen itu adalah hal paling gue sesali juga dalam hidup. Good side-nya, gue bersyukur Tuhan masih mau untuk menyadarkan gue.
4. Gue menyia-nyiakan waktu gue yang mungkin terbilang singkat tanpa gue sadari untuk membahagiakan orang tua gue. Gue baru sadar, mau ngejar apapun di dunia, kalau ujungnya hanya untuk kebahagiaan diri sendiri, tanpa kebahagiaan itu bisa dinikmati oleh orang lain, terutama orang tua kita, yakin, kita nggak akan pernah puas, nggak akan 100% ngerasain bahagia itu. Orang tua kita pada akhirnya hanya akan membutuhkan waktu kebersamaannya dengan kita, bukan hanya materi yang berlimpah, yang terpenting buat mereka adalah, kita masih punya waktu untuk mereka.
4 hal besar yang paling gue sesali dalam hidup gue. Lalu apa sekarang? Apa tindakan gue untuk menghadapi atau memperlakukan penyesalan-penyesalan gue itu? Oke, kali ini gue ngasih waktu ke diri gue untuk ibadah sebanyak-banyaknya, karena hanya dengan ibadah tulus, Tuhan mungkin akan merangkul kita lebih erat. Sampai akhirnya gue mendapat jawabannya.
Gue terlalu concern banget sama yang namanya planning. Gue terlalu fokus sama target, tanpa gue memikirkan bagaimana caranya gue ngasih yang terbaik dalam proses. Gue lupa sama proses. Makanya gue jadi nggak nikmatin saat itu apa yang sedang gue lakukan. Punya target boleh, tapi jangan setiap detik kita mikirin targetnya doang, apalagi sampai udah berangan-angan. Sekali ngasih momen ke diri kita untuk mikirin target, setelah itu udah sisa waktu hari lo, lo jalanin dengan apa adanya aja, do the best untuk apa yang detik itu lo lagi lakuin. Nggak usah mikir besok akan seperti apa. Kalau gue sih gitu, akhirnya gue sadar, begitu cara paling tepat untuk treat diri gue sendiri.
Yang pasti, feeling guilty harus bisa bikin lo bangkit, bukannya justru malah stuck nggak bergerak.
No comments:
Post a Comment