Monday, 19 March 2018

Titik Nol, Kita dan Ciliwung, Tinju Tinja Squad | Part 1

"Be the change you wish to see in the world." - Mahatma Gandhi

Kutipan yang terdiri hanya dengan satu kalimat, sepuluh kata. Tak ada satu menit untuk menulisnya. Tapi aku tahu, betapa sulit untuk mengimplementasikannya. Daripada berwacana ria dan hanya mengagumi kutipan ayah Mahatma Gandhi tersebut (karena kalau tidak dikagumi, darimana kita bisa mendapat motivasi untuk bisa menjadi lebih baik, tidak hanya untuk diri kita tapi juga untuk sekitar), maka aku mencari lalu mendapatkan kutipan kedua. 

"Children learn as they play. Most importantly, in play children learn how to learn." - O Fred Donaldson

Masih ada yang ingat permainan Play Station "Harvest Moon" tahun 2000-an? Permainan kesukaanku waktu jaman SD kelas 4 atau 5, yang aku mainkan tiap hari Jum'at sepulang sekolah atau Sabtu siang hari (karena hanya di hari itu aku diperbolehkan bermain Play Station oleh orang tuaku). 

Hidup di dunia ini buatku sama seperti sedang bermain Harvest Moon. Aku ingin karakterku dalam permainan itu bisa menjadi "kaya". "Kaya" dalam arti memiliki lingkungan yang bisa membuatku tumbuh, memiliki ilmu baru yang bermanfaat setiap harinya, menjadi sumber kebahagiaan untuk orang lain. 

Dari sini lalu aku mencari apa yang aku suka, seharusnya adalah sesuatu yang bisa menjadi media untukku menciptakan kebahagiaan, tidak hanya untuk diriku sendiri, hidup ini terlalu sepi jika aku lakukan sendiri. 

Location: Sekolah Sungai Ciliwung - Kapung Sawah, Jakarta Selatan

18 Maret 2018. Untuk kesekian kalinya aku melakukan aktifitas sosial dengan masyarakat. Berkegiatan seperti ini sudah aku lakukan sejak 4 tahun belakangan ini, pastinya sejak aku mengenal dan menjadi bagian dari suatu organisasi kepemudaan yang telah membesarkanku, AIESEC. Bedanya adalah ini pertama kalinya aku ke sungai Ciliwung yang ternyata baru sadar kalau Ciliwung itu panjang banget. Aku tahunya Ciliwung itu di daerah Jakarta aja, tapi ternyata memanjang hingga ke Bogor. Bedanya yang kedua adalah, ini pertama kalinya aku berkunjung ke bantaran sungai yang katanya hampir sudah tidak ada harapan bisa menjadi bantaran yang rapi. Tapi ketika aku berkunjung ke Kampung Sawah ini yang letaknya dekat dengan bantaran sungai, hmm... aku terkesima bantaran bisa menjadi sebuah destinasi alam yang baik tanpa kita harus merusaknya. Akan aku paparkan nanti. Bedanya yang ketiga adalah, untuk melakukan aktifitas ini, meskipun program ini adalah program bawaan dari UNICEF Indonesia, tetapi aku menjalankannya hampir sendiri dan hanya mengandalkan koneksi dan ajakan-ajakan dari mulut ke mulut untuk membuat tim. 

Aku akan membagi cerita kegiatan saya dengan teman-teman Ciliwung Kampung Sawah dalam 3 babak. Babak pertama adalah yang sedang aku tulis saat ini, dan sebagai pembuka, tentu saja aku ingin menceritakan proses hingga hari kemarin tiba, 18 Maret 2018. 

Timku terdiri dari kurang lebih 17 orang yang ada di Whatsapp group kami. 4 di antara mereka adalah teman-teman SMA-ku. Selebihnya aku baru pertama kali ketemu mereka kemarin. Dalam persiapan selama kurang lebih 3 minggu, kami mengandalkan komunikasi by Whatsapp. Tak banyak yang bisa kami bahas di Whatsapp, begitu sulit untuk menentukan kesamaan jadwal untuk bertemu mempersipakan dan mendiskusikan kegiatan ini. Tapi aku maklum. Sampai akhirnya untuk pertama kalinya kami bertemu di hari H kegiatan projek, dan alhamdulillah kami bisa saling mengakrabkan diri satu sama lain. Perjalanan projek masih berlanjut, semoga bisa nambah anggota tim baru dan ada cowoknya mungkin :') biar tambah diverse. 

Selain mereka, aku mengundang serta 2 murid lesku, Haffiz Azzmi (red shirt) dan Fikri Pradana (white shirt), yang aku ajari setiap dua minggu sekali ke rumahnya masing-masing. 2 murid lesku yang sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Bahkan kedua orang tuanya sudah seperti keluargaku, om dan tanteku. Aku paling sensitif jika mendapat energi positif dari lingkungan. Sebisa mungkin akan aku jaga, akan aku jadikan dari bagian hari-hariku. Mereka terlalu berarti untukku. Nggak kebayang jika nanti dua anak ini, yang sekarang mereka kelas 4 SD, akan segera tumbuh menjadi remaja dalam waktu beberapa tahun lagi. Semoga koneksi seperti ini tetap terjaga. 

Dan kami semua bertemu dengan masyarakat, ada anak-anak muda bahkan bapak-bapak, yang semangatnya luar biasa banget untuk lingkungan mereka sendiri. Saya kagum, saya terkesima, saya mengidolakan semangat mereka. Mereka beruntung berada di lingkungan yang masih memegang teguh arti bergotong royong, yang saya pikir, mungkin di daerah lain di Jakarta, banyak daerah yang sudah kehilangan kebersamaan dari warganya, gotong royong, atau bahkan toleransi. 

Sampai sini babak pertama cerita kegiatan sosialku di Ciliwung Kampung Sawah. Besok-besok akan aku ceritakan lagi. Bagi kalian yang membaca blog-ku ini, dan kalian ingin bergabung untuk sesekali berkunjung ke Ciliwung Kampung Sawah ini, kalian boleh hubungi aku via DM instagram dengan follow instagram-ku terlebih dahulu di @renitatyas . Di Ciliwung Kampung Sawah ini kalian akan menyaksikan yang namanya saung-saung betawi di bantaran sungai, jogging track, sanggar-sanggar tari dan kebahasaan asing, komunitas-komunitas pecinta lingkungan, wisata arung jeram, dan lain-lain. Penasaran nggak sih? Aku aja yang pertama kali datang ke sana, nagih pengen berkunjung kesana lagi, walau hanya sekedar ngobrol-ngobrol dengan warga. 

No comments:

Post a Comment