Tuesday, 13 March 2018

Building Connection With Society | sharing experience No. 1

"I don't have enough money to give something big for my surroundings, but I have time, I have capacity in terms of knowledge, effort, to be given for the sake of positive changing, so I don't wait to give them out" - Renita

2012, selepas masa sekolah gue dan beralih ke dunia perguruan tinggi, pastinya benar-benar merubah gue hampir 180 derajat, dari yang kind of introvert, pemalu, tertutup, cuek, menjadi concern dan sensitive banget sama lingkungan sekitar. There is a good side, though, dari perubahan-perubahan mindset dan perilaku gue di masa perguruan tinggi sejak 5 tahun silam. Apa aja yang udah gue lakukan dalam 5 tahun terakhir ini?

Ditanya apa aja yang UDAH gue lakukan dalam 5 tahun belakangan ini, gue bingung gimana jawabnya. Karena definisi "udah" di sini itu, udah apa? udah melakukan sesuatu atau udah menghasilkan sesuatu. Mungkin gue lebih ingin menjawab pertanyaan apa aja yang udah gue lakukan, soal hasil biar kalian nilai sendiri aja once gue ada chance untuk membeberkan secara detail projek-projek sosial yang pernah gue lakukan.

1. Gue tergabung dalam organisasi kepemimpinan dan kepemudaan, yaitu AIESEC. Awalnya sebatas volunteer selama kurang lebih 3,5 tahun, lalu sisanya hingga tahun 2016 akhir, menjadi pengurus full time di tim nasional AIESEC Indonesia. Selama menjadi anggota AIESEC, gue banyak dapat kesempatan untuk ngikutin berbagai macam kegiatan sosial dan self development melalui conference-conference-nya. Nggak hanya itu, since AIESEC juga memiliki produk untuk sebagai sarana self development para agent of change-nya AIESEC, dimana AIESEC menawarkan program pertukaran pelajar bekerjasama dengan AIESEC-AIESEC di (kalo nggak salah ingat) 120an negara, membuat gue hampir sehari-harinya ketemu dan bertukar pikiran serta berkomunikasi dengan pemuda-pemudi dari berbagai negara. Bisa kebayang, hidup gue yang sebelum ini rasanya flat-flat aja, hampir jarang nemuin problematika karena nggak terlalu sering banyak orang, ini as sudden, gue dipicu untuk mikir.

2. Di momen-momen terakhir gue akan meninggalkan AIESEC, gue mendapat kesempatan yang cukup luar biasa untuk menjalankan projek di Maluku, tepatnya di Pulau Seram. Luar biasa pengalam gue di sini, meskipun sayangnya gue nggak bisa berbangga diri untuk projek yang tidak sempat gue selesaikan dengan baik.

3. Selepas AIESEC, sebulan dua bulan gue kembali menjalankan aktifitas-aktifitas gue yang supposed to be felt normal, tapi asing buat gue saat itu, karena biasa sibuk dan ketemu banyak orang, tiba-tiba sepi. Sampai akhirnya gue bertemu kembali dengan sahabat lama gue dari SMP yang mana kedua orang tuanya memiliki CSR pengabdian masyarakat dengan membuat sebuah sekolah informal setiap hari Minggunya untuk warga sekitar. Gue tergabunglah di sana dan hampir setiap Minggu gue selalu meluangkan waktu untuk mengajar dan bermain dengan anak-anak.

Kegiatan-kegiatan gue pada akhirnya menciptakan benang merah yang terangkai dan menciptakan awareness di dalam diri gue yang seharusnya gue sadari betul-betul, bahwa gue sangat concern sekali dengan anak-anak Indonesia dan pendidikan. Dan untuk menjadi inspirasi gue harus memulai itu semua dari diri gue sendiri. Menyadari ini semua betul-betul, gue mulai mencoba untuk connecting myself with the world, the environment. Teori yang saat ini sedang gue pakai untuk protecting myself agar tidak keluar dari jalur, tidak berlebihan, dan tetap humble dan menjalankan kesibukan-kesibukan gue.

Dan projek yang saat ini on going gue sedang lakukan dengan beberapa teman-teman gue adalah, projek dari UNICEF Indonesia yang khusus membahas tentang issue BABS (Buang Air Besar Sembarangan). Akan seperti apa projeknya? Bagaimana keseruannya? I will update it again very soon!

No comments:

Post a Comment