Sunday, 4 March 2018

Cables of Life | Teori Kehidupan No.1

"Being kind to yourself, to strangers, to those you love, to the world - everyday, at every opportunity - will make you happier and more connected to everything and everyone than you have ever been" 
The Little Book of Kindness by Bernadette Russel


Salah satu hal dalam hidup ini yang aku sangat setuju adalah tentang kindness (kebaikan). Bahwa it is indeed true, kindness is contagious. Aku bukanlah manusia super, manusia sempurna, manusia serba bisa, manusia yang sangat amat dekat dengan Tuhan. Meskipun untuk yang terakhir aku sangat ingin berada di titik itu. Dekat dengan Tuhan dengan dekat dengan ciptaan-Nya. Dekat dalam hal koneksi kehidupan.

Ketika aku sadar bahwa aku hanya manusia, ciptaan Tuhan, dikirim ke bumi, bukan berarti tanpa misi. Misi untuk perjalanan pribadi menuju yang abadi, maupun misi untuk sesama cipataan Tuhan yang dikirim ke bumi. Maka kesadaran itulah yang akhirnya menciptakan sebuah kabel yang terkoneksi antara aku dengan lingkungan. Dan melalui kabel itulah, timbal balik terjadi. Aku memberikan manfaat, aku mendapat manfaat. Alam memberiku manfaat, alam mendapat manfaat dariku. 

Teori kindness ini membawaku pada level bersyukur. Dan menurutku jika sudah sampai di tahap ini, inilah sesuatu yang worth it itu untuk aku maintain. Bersyukur membuatku jauh lebih positif menghadapi segala sesuatu, jauh lebih bisa merasakan detakan jantung dan jarum jam.

Kindness dapat dijaga atau well-maintained dengan membangun self-awareness (kesadaran diri) dengan selalu mencari energi positif. Energi positif yang bisa membuat kita seimbang antara koneksi horizontal dan koneksi vertikal. Dan itulah the biggest positive energy

Salah satu energi positif yang kudapatkan belakangan ini adalah koneksi yang terbentuk antara aku dengan keluarga salah satu adik didikku (karena aku yang adalah seorang part-time private tutor di luar pekerjaanku sebagai salah satu karyawan swasta di sebuah startup media yang sedang berkembang). Kelebihanku sebagai seorang introvert adalah aku bisa membedakan mana orang-orang yang tepat yang bisa melihat sisi extrovert-ku. Semua mengalir begitu saja ketika aku bertemu dan mulai berinteraksi dengan kedua orang tua dari adik didikku ini, sebut saja namanya Azzmi, anak cerdas, unik, apa adanya, kreatif, berani, dan kritis. Lambat laun, koneksi semakin kuat, ditandai dengan kepercayaan yang mulai terbentuk antara aku dan Azzmi, yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri, keluarga lebih tepatnya. Kepercayaan seperti apa? Ketika Azzmi yang tergolong aktif dan senang bercerita (terkadang terlalu sering keluar dari konteks pelajaran yang sedang dibahas), percaya jika aku akan membuatnya menjadi lebih paham dengan pelajaran yang dia tidak mengerti dengan cara membuat kesepakatan untuk berdisiplin dan membangun respect antara kita berdua ketika aku sedang mengajar, but at the same time, he still has right to tell stories, to show his creations, and to play with me, karena buatku, ketika anak mau berlama-lama bermain denganku, artinya aku sudah membangung koneksi dengannya. Itulah koneksi antara aku dengan Azzmi. 

Lalu koneksi menular kepada koneksi antara aku dengan kedua orang tua Azzmi. Beliau-beliau adalah orang tua millenials yang menginspirasi buatku dalam cara mendidik anak, berkomunikasi dengan anak, dan membangun chemistry antara orang tua dan anak. Dan kedua orang tua Azzmi benar-benar mengimplementasikan, mempraktikkan, dan menunjukkannya di hadapanku. Aku masih 23 tahun, dengan segala pengalaman emosional yang sudah pernah ku alami, mulai dari jadi anak yang penurut, pendiam, dan mendengarkan kata orang tua, menjadi kebanggaan mereka, hingga menjadi anak yang bukan pendiam tapi lebih banyak diam a.k.a menyembunyikan, berontak dengan cara tidak bisa menunjukkan the best version of me di hadapan mereka, sampai akhirnya sekarang aku kembali berdamai, bukan dengan kedua orang tuaku karena kami tidak sedang perang, tetapi lebih kepada diriku sendiri, terutama ego-ku. Kembali lagi kuteruskan, meskipun aku masih 23 tahun, umur yang menurutku sedang diamanahkan oleh Tuhan agar aku belajar sebanyak-banyaknya tentang kehidupan, sebelum aku berganti kehidupan lainnya dengan sosok-sosok baru dalam hidupku nantinya (a.k.a teman hidup). Dan kedua orang tua Azzmi sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Pemikiran mereka yang logic dan modern tetapi tetap pada syariat, pada akhirnya mampu membuatku memandang mereka seperti om, tante, atau bahkan terkadang seperti kakak yang mana aku bisa bercerita tentang hal paling pribadi dalam hidupku, yang mungkin tak pernah kuceritakan kepada siapapun. Karena mereka adalah salah satu energi positif yang mengirimkan keseimbangan (balance) antara aku dengan lingkungan dan aku dengan Tuhan. 

Sekali lagi, Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan selalu tahu apa yang dibutuhkan umat-Nya. Hanya saja terkadang, saking umat-Nya lupa akan-Nya, kita tak sadar bahwa Tuhan sedang berbicara dan memberi kita hadiah. 

No comments:

Post a Comment