Hi, guys! Gue baru aja kembali dari Pontianak, by the way. Ya, mungkin sebagian dari kalian yang follow instagram gue dan cukup rajin ngelewatin insta story gue (meskipun ngelewatin doang lah ya, nggak mampir lama-lama), pasti kalian tahu kalau akhir pekan kemarin, tiba-tiba nggak ada angin, nggak ada hujan, gue berangkat ke Pontianak. Rencana yang nggak perlu gue rencanakan berbulan-bulan. Ketika gue merasa gue punya dana untuk berangkat, tanpa gue harus kekurangan ketika gue balik, gue langsung memutuskan untuk kesana.
Dan kali ini dua hal yang akan gue bahas di sini. Pertama, pertanyaan orang-orang kenapa Pontianak? Ada apa di sana? Apa yang lo cari? Kedua, ada beberapa orang yang berbaik hati mengingatkan gue untuk berhati-hati dengan segala macam orang yang ada di sana. Suku ini lah, suku itu lah.
Gue bahas dari yang pertama dulu. Kenapa Pontianak? Karena itu salah satu kota dari sekian banyak tempat di Indonesia yang belum pernah gue kunjungi. Jadi pertama-tama gue punya misi. Dalam waktu dekat ini, gue pengen mengunjungi tempat-tempat yang mewakili suatu pulau di Indonesia. Saking banyaknya kan ya pulau di Indonesia. Terutama pulau besarnya. Jadi ketika orang tanya, lo udah pernah ke Kalimantan belum? Gue jawab pastinya, udah dong. Lo udah pernah ke Sulawesi belum? Gue jawab pastinya, udah dong. Lo udah pernah ke Maluku belum? Sekali lagi gue jawab pastinya, udah dong. Nah bangga aja gitu ketika lo sedikit demi sedikit nabung untuk mengenal dan mengerti negara lo sendiri. Gue udah pernah ke beberapa negara di luar Indonesia, dan gue merasa belum mengenal negara sendiri itu belum sepenuhnya gue mengerti macam manusia, apalagi yang ada di negara gue sendiri. Sekarang, dengan gue mengunjungi satu kota ke kota lain, satu tempat ke tempat lain, satu pedalaman ke pedalaman lain, di Indonesia, gue jadi punya bahan pembicaraan baru atau saran baru untuk sesama. Oke, skip dulu soal ini. Jadi intinya gue milih Pontianak, karena gue belum pernah ke Kalimantan. Mau sih ke Papua atau NTT, tapi masalahnya jauh bro, dana nggak memadai. Di samping itu, gue juga baru kenal seseorang yang kebetulan dia adalah seorang penulis dari Pontianak. Lahir, tinggal, dan besar di sana. Jadi quality time gue setidaknya ada value added-nya untuk buku gue yang akan gue segera publikasikan, amin.
Hal kedua yang menggugah hati gue untuk menulis dan share ini di sini, adalah tentang betapa gue bersyukur sekaligus gemes dengan yang satu ini. Yaitu ketika ada beberapa orang yang tahu gue mau pergi ke Pontianak, gue langsung ketiban banyak nasihat.
"Ren, jangan sembarangan bicara sama orang ya. Di Pontianak itu masih banyak suku dayaknya, dan budaya mereka masih kentel banget dengan yang namanya santet-santet orang."
"Kak, hati-hati ya di sana. Jangan sembarangan makan-makanan yang disuguhi sama orang."
Dan masih banyak Kak, Ren, lainnya...
Yang gue rasakan pertama kali mendengar hal itu. Gue gemes sih sejujurnya. Kira-kira mereka yang punya pikiran seperti itu, sering jalan-jalan nggak ya? Suka jalan-jalan nggak ya? Terus, apa jangan-jangan karena pikiran-pikiran semacam itu, mereka jadi maju mundur untuk jalan-jalan di negara mereka sendiri? Exploring negara mereka sendiri. Tapi di samping itu, gue bersyukur. Bersyukur karena masih banyak orang-orang yang peduli sama gue artinya. Mereka cuma sekedar menasehati kok, tidak melarang. Kalau sampe melarang, nah lain cerita reaksi dan komentar gue haha.
Gue terima kasih dengan segala nasihat setiap gue mau pergi ke suatu tempat. Tak lantas membuat gue jadi sombong, hal semacam itu gue jadikan pengingat aja untuk gue lebih mawas diri. Bukannya hati-hati ya. Hati-hati menurut gue adalah sesuatu yang nggak perlu kita terlalu tampilkan di permukaan. Alih-alih malah kita jadi kayak bikin boarder untuk diri kita sendiri dan lingkungan, jadi malah nggak aware dengan sekitar. Ketika kita traveling, 90% apa yang terjadi di perjalanan adalah the way we bring ourselves, the way we deal with people, the way we talk to people. 10% nya lagi nasib aja sih dan restu orang tua. Jadi maksud gue gemes di sini adalah, gue encourage banget untuk teman-teman yang mungkin masih enggan atau takut untuk traveling, kalau kalian nggak bisa sendirian, nggak berani, nggak boleh, atau semacamnya, kalian bisa cari partner jalan atau teman-teman yang punya interest yang sama dengan kalian. Jangan sampai hal-hal yang belum tentu terjadi, dan belum tentu semenakutkan itu, jadi malah menghalangi kalian untuk melihat dunia lebih luas lagi. Jagat raya ini nggak sebatas kota Jakarta aja, Mbak, Mas.
Sedikit tentang kota Pontianak yang bisa gue bagi di sini. Selebihnya, gue saranin kalian mampir-mampir lah ke sana kapan-kapan ya. Transportasi umumnya udah nggak perlu dikhawatirkan lagi deh. Dua trend orang Pontianak dari segi pemakaian transportasinya: kalau nggak mandiri banget (a.k.a punya kendaraan bermotor sendiri); atau digital-minded banget (a.k.a gojek dan grab meraja di sana dibanding angkot dan semacamnya). Jadi kalau kalian punya teman atau kenalan baik di sana, mintalah dia untuk jadi tebengan lo selama di sana, sambil lo traktir-traktir tapi ya, jangan pure gratisan aja, kecuali dia yang minta. Tapi ya setidaknya berikan lah rasa terima kasih kita meskipun hanya secangkir es kelapa. Nah, tapi kalau tidak ada yang bisa kalian andelin untuk dijadikan tebengan, gojek atau grab udah mantep kok. Rate-nya yang pasti lebih murah daripada rate Jakarta.
Lalu, Pontianak itu memang lebih terkenal dengan wisata kulinernya. Jadi jangan ekspektasi untuk wisata alam di sana, kecuali kalian mau sedikit berjalan agak jauh beberapa jam ke utara (kalau nggak salah). Ada daerah Singkawang di sana yang memang terkenal dengan wisata pantainya. 4 jam kurang lebih dari kota Pontianak. Tapi gue merasa terpuaskan dengan hanya duduk-duduk bersama orang-orang di tepian sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Jadi worth it kok untuk berlibur ke Pontianak. Banyak-banyakin deh ketemu sama banyak orang. Banyak dengerin mereka, jangan hanya kita yang curhat melulu. InshaAllah, kalian bakal mengerti kalau nge-bom bukan solusi untuk menciptakan damai.
Next destination?? Kupang, gimana?
No comments:
Post a Comment