Gue pikir, gue cukup baik untuk memerankan lakon gue sebagai yang tidak
pantang menyerah. Juga memerankan lakon gue sebagai yang takut akan ambisi
membabi buta. Apakah dia jodoh gue atau bukan, gue nggak pernah tahu dan tak
ada satupun orang di dunia ini yang bisa memberikan jaminannya. Memaksanya pun bukanlah
hal bijak yang patut gue lakukan. Jadi destiny
remains a secret. Kalau gue menyerah, gue nggak tahu menyerah seperti apa.
Apakah dengan gue menghapus semua kontaknya, semua akses yang dapat membuat gue
kembali teringat padanya? Apakah dengan gue memaksakan diri untuk move on dengan cara mencari
penggantinya? Tidak, ini bukan diri gue. Dari awal gue mengganggap Bertho lebih
seperti teman hidup untuk berbagi suka dan duka, daripada pacar. Kami berpisah
dalam kondisi yang baik dan dengan kepala dingin. Bahkan untuk mencari
penggantinya itu tak pernah jadi pilihan gue. Justru sebaliknya, gue nggak mau
melakukan kesalahan yang kedua kalinya, maka menunggu menjadi pilihan gue saat
ini. Menunggu siapapun yang Tuhan kirim untuk gue, persis seperti ketika Tuhan
tiba-tiba mengirim Bertho ke dalam hidup gue setahun yang lalu. Dengan cara-Nya
yang tak pernah terduga. Ya, segitu sulitnya ketika masa itu. Gue harus
terlihat tegar di depannya, namun di dalam sebenarnya gue cukup rapuh. Gue
mulai mencoba untuk tidak lagi bergantung dengannya, dan melewati hari-hari gue
sendiri, tanpa bisa berkeluh kesah lagi dengannya.
Lalu berserah. Berserah itu yang gue tahu ketika usaha sudah semaksimal
mungkin dilakukan, maka do’a dan berserah adalah tugas selanjutnya, tanpa ada
kata menyerah. Tapi usaha seperti apa yang bisa gue berikan saat ini? Dia sudah
jauh di mata, namun untuk gue masih terasa dekat di hati. Rindu itu masih
selalu berhembus ke dalam dada.
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui gue. Gue ingin ikhlas. Ya, gue
nggak mau menyerah tapi gue mau gue ikhlas. Jika gue berserah kepada Allah, dan
membuat keputusan semata-mata hanya untuk Allah, tanpa mengharapkan imbalan
dari manusia, hanya imbalan dari Allah yaitu berupa kedamaian hati, gue akan
mempalajarinya apapun caranya. Dan keputusan gue, gue nggak akan pernah
melupakan dia. Hati ini akan terbuka untuk siapapun yang ingin dan pantas untuk
bersemayam di salah satu sudutnya, termasuk dia.
No comments:
Post a Comment