Sunday, 7 January 2018

Antara menyerah atau berserah

Gue pikir, gue cukup baik untuk memerankan lakon gue sebagai yang tidak pantang menyerah. Juga memerankan lakon gue sebagai yang takut akan ambisi membabi buta. Apakah dia jodoh gue atau bukan, gue nggak pernah tahu dan tak ada satupun orang di dunia ini yang bisa memberikan jaminannya. Memaksanya pun bukanlah hal bijak yang patut gue lakukan. Jadi destiny remains a secret. Kalau gue menyerah, gue nggak tahu menyerah seperti apa. Apakah dengan gue menghapus semua kontaknya, semua akses yang dapat membuat gue kembali teringat padanya? Apakah dengan gue memaksakan diri untuk move on dengan cara mencari penggantinya? Tidak, ini bukan diri gue. Dari awal gue mengganggap Bertho lebih seperti teman hidup untuk berbagi suka dan duka, daripada pacar. Kami berpisah dalam kondisi yang baik dan dengan kepala dingin. Bahkan untuk mencari penggantinya itu tak pernah jadi pilihan gue. Justru sebaliknya, gue nggak mau melakukan kesalahan yang kedua kalinya, maka menunggu menjadi pilihan gue saat ini. Menunggu siapapun yang Tuhan kirim untuk gue, persis seperti ketika Tuhan tiba-tiba mengirim Bertho ke dalam hidup gue setahun yang lalu. Dengan cara-Nya yang tak pernah terduga. Ya, segitu sulitnya ketika masa itu. Gue harus terlihat tegar di depannya, namun di dalam sebenarnya gue cukup rapuh. Gue mulai mencoba untuk tidak lagi bergantung dengannya, dan melewati hari-hari gue sendiri, tanpa bisa berkeluh kesah lagi dengannya.

Lalu berserah. Berserah itu yang gue tahu ketika usaha sudah semaksimal mungkin dilakukan, maka do’a dan berserah adalah tugas selanjutnya, tanpa ada kata menyerah. Tapi usaha seperti apa yang bisa gue berikan saat ini? Dia sudah jauh di mata, namun untuk gue masih terasa dekat di hati. Rindu itu masih selalu berhembus ke dalam dada.


Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui gue. Gue ingin ikhlas. Ya, gue nggak mau menyerah tapi gue mau gue ikhlas. Jika gue berserah kepada Allah, dan membuat keputusan semata-mata hanya untuk Allah, tanpa mengharapkan imbalan dari manusia, hanya imbalan dari Allah yaitu berupa kedamaian hati, gue akan mempalajarinya apapun caranya. Dan keputusan gue, gue nggak akan pernah melupakan dia. Hati ini akan terbuka untuk siapapun yang ingin dan pantas untuk bersemayam di salah satu sudutnya, termasuk dia. 

No comments:

Post a Comment