Hari ini gue bak dikasih satu kesempatan dalam satu tarikan napas untuk merenung apa yang sudah gue lakukan selama 23 tahun hidup gue. Oke, sebelum gue menjelaskan panjang lebar, gue mesti ngasih satu alasan dulu pentingnya kita self-reflection sekali-kali daripada nggak sama sekali. Pertama, gue yakin banget most of us kalau udah happy itu kaya nge-fly, lupa sama daratan, lupa sama kodrat. Dan menurut gue self-reflection itu ada salah satu upaya untuk membuat kita nggak lama-lama nge-fly dan segera stay to the ground lagi. Kedua, self-reflection itu setidaknya mengingatkan kita lagi tentang "start, stop, continue" nya hidup kita. Ngerti kan maksud gue "start, stop, continue" ini apa? Intinya adalah apa sesuatu atau kebiasaan baru yang harus kita mulai dari esok hari kita buka mata, apa sesuatu atau kebiasaan lama yang harus kita hentikan mulai dari esok hari kita buka mata, dan apa sesuatu atau kebiasaan baik yang harus kita lanjutkan untuk diaplikasikan dalam sehari-hari. Jadi menurut gue self-reflection itu penting dan harus jadi rutinitas.
Gue yang sekarang udah dalam usia bukan usia-usianya main-main, manja-manjaan, gue udah dalam usia di mana gue harus bisa membuat keputusan sendiri tanpa bergantung kepada orang lain, sekaligus berani bertanggung jawab atas apa yang udah gue putuskan atau pilih. Gue cukup "amazed" dengan diri gue ketika gue mulai menyadari sesuatu. Bukan gue jumawa, karena kata amazed-nya gue tanda kutipin. Gue terlahir menjadi seorang yang sudah dididik mandiri sejak kecil. Orang tua gue adalah pekerja dan waktu mereka memang 70% dihabiskan di kantor, lalu 30%-nya adalah waktu sepulang kantor di rumah dan weekend. Dari kecil gue terbiasa untuk mengisi waktu-waktu gue yang cukup sepi namun tetap happy hanya dengan menyendiri bersama buku-buku dan imajinasi-imajinasi gue yang cukup liar untuk seumuran gue saat itu. Gue berani bermimpi, gue berani memvisualisasikan menjadi sebuah gambar (karena gue suka gambar) atau dalam bentuk kata-kata (karena gue suka menulis, sama halnya seperti yang detik ini gue lakukan).
Semakin gue beranjak dewasa, gue semakin tahu rupa dunia lebih luas lagi. Gue mulai mengalami yang namanya kebingungan bertanya-tanya apakah gue cukup dengan menjadi diri gue yang sekarang ini yang hanya menghabiskan waktunya untuk baca buku, movie marathon sendiri, nulis, gambar, les ini itu untuk ngejar beasiswa (don't read me as I was that smartest girl. No. I was just a girl who do everything I loved, without any fear to fail). Gue mulai merasa kurang, gue mulai merasa iri, gue mulai merasa butuh tantangan lebih, gue mulai merasa bahwa hidup gue membosankan. Gue mencoba untuk keluar dari cangkang itu, dan yep, gue berhasil keluar dari cangkang itu dan gue mulai berkelana selama bertahun-tahun menjadi Renita yang hampir 180 derajat berbeda than who I was. Since dari dulu gue memang suka merenung, gue a thinker, jadi terkadang setiap perubahan dalam diri gue, gue cukup aware.
Singkatnya, out of your comfort zone is totally fine, you have to explore, indeed. But if you turn to be fake, you thought it was you but people couldn't see that was you, maybe it was not you indeed. What you envy of, maybe you shouldn't be. You're just not seeing something you have to thank for right now in front of you and it is enough.
No comments:
Post a Comment