Saturday, 6 January 2018

Gue yang ingin mulai memperkanlan Islam kepadanya, tapi apakah gue sendiri sudah benar-benar mengenal Islam?

Dia sebiasa itu setelah malam keputusan itu. Gue juga merasa lebih mudah ngejalaninnya, karena dia yang tidak pernah benar-benar berubah jauh di dalam hatinya. Suatu malam, ada kebingungan yang melanda hati gue. Gue berpikir keras. Gue yang ingin memperkenalkan Islam kepadanya, tapi apakah gue sendiri sudah benar-benar mengenal Islam? Muncul pertanyaan-pertanyaan di dalam kepala gue. Jika memang ada istilah “Islam telah memilih gue, jadi bersyukurlah”, apakah fair jika gue tidak benar-benar memilih Islam dengan cara berkenalan dengannya lebih jauh? Jangan-jangan selama ini gue hanya sholat dan puasa tanpa benar-benar memaknai keislaman gue. Kalau memang gue ingin mengenal Islam lebih dalam, bagaimana caranya gue mengenal tanpa gue mengerti terlebih dahulu wajah-wajah keyakinan lainnya. Sama seperti kita ingin memilih teman hidup, kita pasti harus mengenal banyak teman dulu untuk tahu mana yang benar-benar baik, mana yang benar-benar akan membawa kita ke surganya Tuhan. Ada yang menggerakkan hati gue malam itu sampai akhirnya gue memberanikan diri untuk meminjam Alkitab Bertho. 

Selama gue di Ambon juga, gue mencoba untuk ikut menemani dia untuk ibadah Minggu. Hal ini gue lakukan semata-mata gue ingin mengenal dan mengerti apa yang dia yakini. Hampir setiap hari gue meluangkan waktu untuk membaca Alkitab, nonton ceramah-ceramah di Youtube, tanpa sepengetahuan Bertho. Banyak hal yang berharga dan nggak akan pernah gue lupakan sampai mati dalam spiritual journey gue ini. Ya gue menyebutnya spiritual journey karena ini pertama kalinya gue seperti berinteraksi dengan kenyataan melalui Alkitab dan Al-Qur’an. Suatu malam, ketika gue sudah hampir pada akhir dari Alkitab, air mata gue tumpah ruah tidak terbendung. Gue ambil wudhu dan sholat Isya’. Setelahnya gue melakukan sujud panjang dan berterima kasih dengan Allah tentang kesempatan belajar hal paling esensial dalam hidup yang mungkin kalau gue tidak pernah mencari, gue tidak akan pernah menemukan. Malam itu hati gue jauh lebih terang dan ikhlas tentang hubungan gue dengan Bertho. Hal yang paling gue sesali sampai saat ini mungkin adalah gue nggak punya kesempatan untuk share ini kepada Bertho. Tapi gue percaya, kalau Allah ngasih kesempatan ke Bertho, Bertho akan menemukannya. Tapi satu hal yang bisa gue share disini adalah bahwa dua agama ini sebenarnya sejalan. Sampai saat ini pada akhirnya gue tidak pernah berhenti membaca Al-Qur’an beserta arti, karena gue tahu ilmu itu nggak akan berhenti sampai akhir hayat kita. Dua agama ini sama-sama mengajarkan kebaikan yang serupa. Sepengalaman gue menemani Bertho ke gereja pun, ceramah-ceramahnya selalu memotivasi gue untuk selalu berbuat kebaikan terhadap sesama manusia. Jadi sekarang logis buat gue bahwa agama itu benar adalah pedoman hidup. Manual book-nya adalah kitab. Nggak ada agama yang mengajarkan kejahatan. Yang jahat itu adalah manusianya.

Dan pada akhirnya dari perjalanan ini, gue yang jadi banyak belajar tentang Islam. Memutuskan memakai hijab-pun adalah karena dua kitab ini, segalanya menjadi selalu beralasan. Yang pertama adalah lillahi ta’ala (segala sesuatunya hanya untuk Allah semata) dan yang kedua menutup aurat itu adalah bentuk cinta Tuhan kepada umat-Nya, untuk melindungi. Sampai saat ini, nama Bertho selalu ada dalam do’a gue. Gue nggak lagi meminta Tuhan agar dia menjadi pasangan gue suatu hari nanti. Tapi yang gue minta adalah agar dia selalu berada dalam lindungan Allah dan menjadi orang yang benar-benar mendapatkan surga-Nya kelak. Urusan jodoh, inshaAllah gue sudah pasrahkan kepada Allah, dan hanya itu yang membuat gue menjadi damai sampai sekarang. Do’a gue untuk dia tulus bentuk sayang gue dan cinta gue terhadap seorang teman baik yang pernah menjadi teman hidup gue. 

No comments:

Post a Comment