Semakin lama gue menjalani kedekatan ini
dengan Bertho, semakin gue bertanya-tanya dalam hati. Kira-kira ujungnya akan
seperti apa? Gue nggak munafik. Gue berasal dan dilahirkan dari keluarga Muslim
yang meskipun tidak sealim itu tapi mereka berpegang teguh pada prinsip bahwa
hubungan berbeda agama itu tidak disarankan. Gue sempat menemukan kesulitan
untuk memperkenalkan Bertho ke orang tua gue, gue juga sempet takut berkanalan
dengan keluarga Bertho, takut pada akhirnya kita berdua akan sama-sama dilarang
untuk saling dekat. Tapi alhamdulillah pada kenyataannya, orang tua gue meminta
gue untuk menjalani dan bertanggung jawab terhadap apa yang gue pilih, walaupun
tetap jika hubungan ini berlanjut artinya Bertho harus masuk Islam. Gue juga
nggak munafik, kalau hubungan gue dengan dia ini nggak main-main. Dan gue butuh
sosok yang bisa mimpin gue sholat nantinya. Gue juga nggak munafik kalau gue
ingin memperkenalkan agama gue kepada Bertho.
Gue mulai sering berpikir tentang
hubungan gue ini. Tapi setiap gue mau mencoba untuk membicarakan ini dengan
Bertho, seems he was not interested, jadi gue berusaha sabar aja. Mungkin
hubungan gue ini seperti bom waktu dan gue nggak punya kendali untuk
menjinakkan bom waktu itu. Dan benar saja, pada akhirnya bom waktu itu
dikendalikan oleh Bertho. Dia hanya bisa menghentikkan waktunya tanpa bisa
menjinakkannya. Toh bom itu akan tetap harus meledak. Dan dia melakukannya
alih-alih untuk menyelamatkan hati gue. Gue merasakan ledakannya, pun dia juga,
tapi setidaknya tidak menghacurkan kita berdua.
Saat itupun gue sudah mengerti,
memaksakan Bertho untuk mengenal agama gue itu nggak mudah. Dan memang
seharusnya gue tidak memaksakannya. Semua harusnya tergantung kepada Bertho,
apakah dia mau mengenal gue dengan dia berkenalan dengan Islam. Bertho lahir
dalam keluarga yang taat dengan agamanya. Meskipun untuk Bertho sendiri dia
termasuk yang biasa-biasa aja, tapi gue paham dia pun nggak bisa lepas dengan
latar belakang keluarganya. Dan.... mengucapkan dua kalimat syahadat seemed
impossible pada saat itu. Gue pun mulai putus asa.
Singkatnya, seperti yang gue bilang
tadi, Bertho yang pada akhirnya menghentikkan waktu bomnya tanpa bisa
menjinakkannya. Ternyata selama itu Bertho juga menyimpan pertanyaan yang sama
di benaknya. Sepulangnya gue dari Eropa dan setelah gue merayakan Idul Adha
tahun itu, Bertho mengutarakan isi hatinya ke gue melalui telepon, mulai dari
kegundahan tentang keyakinan sampai menyampaikan bagaimana rasa sayangnya
terhadap gue. Ketika gue mendapat kabar yang tiba-tiba ini darinya dan bahkan
di saat gue tidak ada di sisinya saat itu serta keadaan kita yang terlalu jauh
dari kata nggak baik, mungkin sedikit menggoreskan luka di hati gue. Dalam
benak gue, jadi selama ini perjuangan gue mempertahankan dia dengan segala
kegundahan gue, harus berhenti di sini? Tapi bersamaan dengan perasaan itu gue
seperti sudah siap dengan hari itu. Dari awal gue menerima hubungan ini, gue
udah bicara dengan Tuhan bahwa gue ingin jika hubungan ini harus berujung, aku
mau Engkau berikan akhir yang baik. Baik dalam definisi-Mu, duhai Allah. Dan,
tidak sesulit itu pada akhirnya kita mengakhiri hubungan ini. Lalu, apakah itu
benar-benar berakhir setelahnya? Tidak. Bertho tidak pernah benar-benar
berubah. Dia masih Bertho gue, Bertho yang gue kenal baik. Mungkin definisi
akhir buat kita berdua adalah menerima kenyaatannaya dulu saat ini, tanpa harus
terikat, tanpa harus nantinya akan menyakiti satu sama lain. Jadi again, in
another words, gue nggak menyesal dengan keputusan yang sama-sama kita sepakati
berdua ini.
No comments:
Post a Comment