Saturday, 6 January 2018

Gue sudah menemukan maksud Tuhan. Tapi apa hanya gue?

Semakin lama gue menjalani kedekatan ini dengan Bertho, semakin gue bertanya-tanya dalam hati. Kira-kira ujungnya akan seperti apa? Gue nggak munafik. Gue berasal dan dilahirkan dari keluarga Muslim yang meskipun tidak sealim itu tapi mereka berpegang teguh pada prinsip bahwa hubungan berbeda agama itu tidak disarankan. Gue sempat menemukan kesulitan untuk memperkenalkan Bertho ke orang tua gue, gue juga sempet takut berkanalan dengan keluarga Bertho, takut pada akhirnya kita berdua akan sama-sama dilarang untuk saling dekat. Tapi alhamdulillah pada kenyataannya, orang tua gue meminta gue untuk menjalani dan bertanggung jawab terhadap apa yang gue pilih, walaupun tetap jika hubungan ini berlanjut artinya Bertho harus masuk Islam. Gue juga nggak munafik, kalau hubungan gue dengan dia ini nggak main-main. Dan gue butuh sosok yang bisa mimpin gue sholat nantinya. Gue juga nggak munafik kalau gue ingin memperkenalkan agama gue kepada Bertho.

Gue mulai sering berpikir tentang hubungan gue ini. Tapi setiap gue mau mencoba untuk membicarakan ini dengan Bertho, seems he was not interested, jadi gue berusaha sabar aja. Mungkin hubungan gue ini seperti bom waktu dan gue nggak punya kendali untuk menjinakkan bom waktu itu. Dan benar saja, pada akhirnya bom waktu itu dikendalikan oleh Bertho. Dia hanya bisa menghentikkan waktunya tanpa bisa menjinakkannya. Toh bom itu akan tetap harus meledak. Dan dia melakukannya alih-alih untuk menyelamatkan hati gue. Gue merasakan ledakannya, pun dia juga, tapi setidaknya tidak menghacurkan kita berdua.

Saat itupun gue sudah mengerti, memaksakan Bertho untuk mengenal agama gue itu nggak mudah. Dan memang seharusnya gue tidak memaksakannya. Semua harusnya tergantung kepada Bertho, apakah dia mau mengenal gue dengan dia berkenalan dengan Islam. Bertho lahir dalam keluarga yang taat dengan agamanya. Meskipun untuk Bertho sendiri dia termasuk yang biasa-biasa aja, tapi gue paham dia pun nggak bisa lepas dengan latar belakang keluarganya. Dan.... mengucapkan dua kalimat syahadat seemed impossible pada saat itu. Gue pun mulai putus asa.

Singkatnya, seperti yang gue bilang tadi, Bertho yang pada akhirnya menghentikkan waktu bomnya tanpa bisa menjinakkannya. Ternyata selama itu Bertho juga menyimpan pertanyaan yang sama di benaknya. Sepulangnya gue dari Eropa dan setelah gue merayakan Idul Adha tahun itu, Bertho mengutarakan isi hatinya ke gue melalui telepon, mulai dari kegundahan tentang keyakinan sampai menyampaikan bagaimana rasa sayangnya terhadap gue. Ketika gue mendapat kabar yang tiba-tiba ini darinya dan bahkan di saat gue tidak ada di sisinya saat itu serta keadaan kita yang terlalu jauh dari kata nggak baik, mungkin sedikit menggoreskan luka di hati gue. Dalam benak gue, jadi selama ini perjuangan gue mempertahankan dia dengan segala kegundahan gue, harus berhenti di sini? Tapi bersamaan dengan perasaan itu gue seperti sudah siap dengan hari itu. Dari awal gue menerima hubungan ini, gue udah bicara dengan Tuhan bahwa gue ingin jika hubungan ini harus berujung, aku mau Engkau berikan akhir yang baik. Baik dalam definisi-Mu, duhai Allah. Dan, tidak sesulit itu pada akhirnya kita mengakhiri hubungan ini. Lalu, apakah itu benar-benar berakhir setelahnya? Tidak. Bertho tidak pernah benar-benar berubah. Dia masih Bertho gue, Bertho yang gue kenal baik. Mungkin definisi akhir buat kita berdua adalah menerima kenyaatannaya dulu saat ini, tanpa harus terikat, tanpa harus nantinya akan menyakiti satu sama lain. Jadi again, in another words, gue nggak menyesal dengan keputusan yang sama-sama kita sepakati berdua ini. 

No comments:

Post a Comment