Saturday, 6 January 2018

Dari awal, dia adalah temanku. Teman hidupku.



Perpisahan menjelma menjadi sebuah bait panjang puisi
Tak terelakkan sudah bahwa kami menoreh cerita kasih sayang tulus
Perpisahan itu menjadi tak berarti perpisahan
Perpisahan itu menjadi pelabuhan
Pelabuhan baru
Untuk aku dan kamu


Harusnya gue udah tahu dari awal bahwa hubungan berbeda agama itu terkadang tak berujung manis. Hampir sekian persennya tak begitu berhasil. Ketika gue menjalin hubungan itu dengannya tidak sedikit yang menasihati gue tentang hubungan ini, tapi emang dasar gue yang nggak pernah mau menyerah untuk menyayangi seseorang, apalagi kalau gue merasakan ketulusan jika gue berada di dekat dia dan saat itu nggak ada alasan yang membuat gue harus menyerah saat itu juga. Kalau putus karena salah satu dari kita ada yang selingkuh, mungkin gue akan lebih mudah untuk ninggalin dia. Tapi kalau putus hanya karena perbedaan prinsip yang mungkin saat itu belum terlalu berdampak pada hubungan baik gue dengan dia, gue nggak tahu apa rasanya, dan sekarang gue merasakannya. Buat gue, seorang Bertho adalah teman hidup. Gue terkadang males nyebut dia pacar, ngenalin dia ke orang tua gue aja bukan dengan istilah pacar tapi teman dekat, karena gue super picky untuk nyebut seseorang itu teman dekat. Teman dekat menurut gue sespesial itu.

Kenapa gue bilang dia teman hidup, karena bahkan sampai saat ini, sampai pada akhirnya kita harus ngelewatin banyak drama hidup ini-itu, break (istirihat), kita nggak pernah merasa canggung untuk ngobrol akrab lagi. Dan yang spesial buat gue, gue nggak perlu harus terlihat perfect di depan dia. Apa adanya, dan itu yang bikin gue nggak terbebani. Selama 23 tahun hidup gue, baru kali ini gue dapat partner yang gue ngerasa benar-benar gue disambut apa adanya.

By the way, gue memulai buku ini dengan kembali mengingat masa-masa indah gue dengan dia. Gue kemas menjadi sebuah cerita dengan nama-nama tokoh yang sudah gue design, sebagai bentuk prasasti bahwa gue pernah merasakan kedekatan dengan seorang teman yang dapat menciptakan sesuatu yang positif dalam hidup gue. Bertho sangat mendukung keputusan gue ini untuk mengisahkan cerita kita kepada pembaca-pembaca buku gue nanti. Gue juga berharap semoga dengan lahirnya buku ini akan menjadi sebuah cerita baru untuk gue dan Bertho serta bisa membuat karya-karya positif lainnya berdua dengan dia, entah as a friend atau apapun yang baik buat kita.


No comments:

Post a Comment