Sunday, 8 April 2018

Pasirku Dari Maluku Feat. Asosiasi PPTN | Give Away Alert!

Dari Jakarta, aku mencoba untuk menembus ruang dan waktu, terbang 2 jam lebih maju dari keadaanku saat ini.

Ada semesta yang telah aku dan dirimu ciptakan
Semesta yang kita sebut Maluku berpasir itu
Tempatmu kini berdiri menapakkan kaki-kaki dengan mantap
Beta siap untuk pulang


Kata cengkeh dan pala menjadi dua kata yang menciptakan satu semesta untukku dan untukmu. Semesta yang kau sebut negeri para raja. Semesta yang kau sekarang tidur dan berdiri di atasnya, wahai penduduk negeri para raja. Semesta yang akan menjodohkan kekayaan alam Nusantara dan kekayaan otak serta hati manusianya. Semesta yang dikenal dengan banyak nama, Al Mulk, Moloku, Moloko, Maluku. Dan sebentar lagi aku, Renita, akan 'mendarat' di bandara Pattimura.

Behind The Scene Pembuatan Projek Novel 

Suka nulis udah lama. Dari jaman-jaman masih pakai seragam dan bawa-bawa bekel. Tapi ternyata sekedar suka saja tidak cukup untuk bisa menjadi seorang penulis. Buatku bukan masalah untuk menjadi penulisnya, tetapi membuat karyanya. Meskipun ini first debut, tapi di sini aku harus bisa mengerahkan usaha ter-maksimal-ku.  

2016 sekembalinya aku dari Seram, mengerjakan projek sosial selama 3 bulan, meskipun bulak-balik Jakarta-Ambon, ternyata aku berhasil menciptakan sebuah cerita. Maluku sebagai provinsi pertama di timurnya Indonesia yang aku jajaki, pastinya nggak habis-habisnya memberikan aku kejutan di setiap sudut ruang dan waktunya. Kisah romansa pun menjadi bumbu gurih dalam perjalanan. Perjalanan yang merubah seorang diriku. 

Tergerak imajinasiku untuk menciptakan sebuah semesta nan indah tapi menyimpan kelam jua. Ingin aku bukukan untuk aku dongengkan kelak pada anak-anakku suatu hari nanti, dan semoga untuk kalian juga. Tapi aku tidak mau memberikan cerita yang 'receh' kalau kata orang Jakarta (re: asal-asalan). 

Mulai menulis projek "Pasirku Dari Maluku" bulan November 2016. Butuh beberapa bulan sampai akhirnya aku share di platform Wattpad, dan stuck. Penyakit penulis pemula. 2017 Pertengahan dapat semangat lagi untuk review dan pada akhirnya aku rombak 100% menjadi non-fiksi. 2017 akhir selesai dan kukirim ke sebuah major publisher. Penerbit tersebut suka dengan ide ceritanya, tapi dapat masukkan justru harus dirubah menjadi fiksi, yang mana saat itu otakku mulai panas karena artinya aku harus revisi lagi 100%. Mulai kerasa tidak mudah untuk menciptakan sebuah karya. Perlu komitmen tinggi. 2018 awal aku bergabung di sebuah perusahaan digital media yang dekat sekali dengan dunia seni tulis. Bertemu dengan banyak penulis hebat & berbakat seperti Llia, Dee Lestari, Bernard Batubara, Alberthiene Endah, dan masih banyak lagi. Sampai akhirnya aku bertemu dengan sebuah komunitas Depok Menulis, mengikut salah satu workshop-nya yaitu "30 Hari Menulis Novel". Ketika aku mengikutinya, awalnya aku hanya berpikir ingin mendapatkan tips-nya saja supaya aku semangat menulis lagi. 30 hari membuat novel? seems impossible saat itu. Tapi tanpa disangka-sangka, Pasirku Dari Maluku menempati urutan nomor 1 "best premise" dalam workshop tersebut. Selama 30 hari kedepan, yang mana sampai akhir April 2018 ini, adalah waktu yang aku miliki untuk membuat sebuah novel ber-genre fiksi yang ingin aku persembahkan untuk negeri ini. Dibimbing oleh Sefryana Khairil dan bekal dari Ibu suri Dee Lestari dalam workshop terkhirnya bersama Storial.co, kini aku mulai mendapatkan ritme menulis. 

Nah rasa dalam mengarungi pengalaman seperti di atas yang ingin aku bagikan kepada teman-teman khususnya di Ambon dan sekitarnya kali ini. Sungguh ingin sekali aku berada di sana saat ini. Membuat suatu perkumpulan bagi kalian pencinta literasi. Semoga 'pendaratan'-ku di Bandara Pattimura akan benar-benar terjadi segera. Rindu beta untuk pulang. 

Pasirku Dari Maluku Feat. Asosiasi PPTN

Siapa yang nggak kenal Asosiasi PPTN? Yang sudah melahirkan beberapa generasi muda di kancah pageant nasional atau bahkan duta-duta nasional. Sebut saja yang aku kenal dan yang belum aku kenal tapi sekedar tahu, Ledo Pattipeilohy, Theresa Kakiay, Noberto Andrisz, Leinda Melissa Wattimena, Mouren Elizabeth, dll. Maaf kalau aku terlewat menyebutkan. 

Tapi bukan hanya itu nilai plus yang menginspirasi, tapi dedikasi. From physical point to brain  and heart point. Berada di panggung saja tidak cukup bagi seorang public figure, sama seperti penulis, kertas sebagai panggungnya. Karyanya seorang public figure seperti penyandang Asosiasi PPTN adalah sebuah gerakan sosial yang dapat menciptakan dampak berkesinambungan (sustainable impact). 

Asosiasi PPTN dan aku lihat banyak komunitas-komunitas anak muda lahir di tanah Maluku merupakan pelengkap dari kekayaan alam Maluku yang bisa kita nikmati para pelancong negeri. Jika mereka mau, jika mereka berkomitmen, mereka akan menciptakan sebuah harmonisasi kebesaran Tuhan. Kekayaan alam dan kekayaan otak serta hati manusianya. 

Maka dari itu sebagai wujud dukunganku untuk sebuah program pengamatan Penyu Salawaku di Pulau Buru yang diselenggarakan oleh Asosiasi PPTN, aku tidak ingin sendirian mendukungnya, berat kata Dilan. Jadi aku ingin mengajak kalian sama-sama mendukung program PPTN ini. Ada 10 tiket nonton bareng Standup Comedy Ambon yang aku akan bagikan secara GRATIS buat teman-teman. Caranya gampang banget untuk ikutan give away alert ini. Cek di bawah ini!




Gampang, kan? Ikutin tahap-tahapnya dengan seksama supaya kalian bisa lolos kualifikasi. Mind the deadline, yaa.. 5 puisi atau prosa terbaik akan diumumkan hari Jum'at 13 April 2018 pukul 22.00 Waktu Indonesia Barat di instagram story-ku. Dan 5 pemenang berhak mendapatkan masing-masing 2 tiket nobar Standup Comedy Ambon yang diselenggarakan hari Minggu, tanggal 15 April 2018 pukul 18.00 WIT sampai selesai. Aku tahu nonton komedi sendirian itu berat, kamu nggak akan kuat, jadi aku kasih 2 tiket untuk masing-masing pemenangnya. Juga untuk 2 prosa/puisi pilihan terbaik, spesial banget aku akan sisipkan di novel Pasirku Dari Maluku: Beta Pung Haliwela, yang saat ini sedang aku garap. Pastinya di bukuku akan aku mention profil dari pencipta karya prosa dan puisi tersebut. Excited?? Me too. Hope to see you in Ambon!

No comments:

Post a Comment